Terjebak Nostalgia di Kota Bandung

Satu bulan berlalu setelah aku berusaha untuk mengikuti irama takdir percintaan didalam hidup, setiap hari aku telah berjuang untuk bersikap tidak memaksakan kehendak, karena apa yang telah Tuhan gariskan sungguh tidak mungkin direvisi sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Kisahku terdahulu, ketika aku bercerita mengenai rasa cinta terhadap seorang biseksual, meski aku tau bahwa aku dapat menerima semua keputusan ini, yang terbaik bagi kami berdua yang akhirnya harus saling meninggalkan.
Namun ternyata melupakan tidak semudah dalam ucapan, ketika setiap hal yang secara tidak langsung mampu mengingatkanku pada setiap kenangan indah yang pernah dilalui berdua dengannya, ketika aku mendengar nama Jogjakarta, lagu-lagu cinta serta kota Bandung yang saat ini sedang aku temui.

Sebenarnya aku belum siap untuk mengunjungi kota ini kembali, karena Bandung adalah tempat dimana kesedihan itu bermuara, ketika aku salah menetapkan hati kepada seseorang yang tidak pernah mengaharapkan, ketika aku terlalu berambisi dengan keberadaan cinta yang sesungguhnya belum tentu ada, lalu kemudian kesedihan dan pembelajaran yang aku terima dari kisah masa lalu itu.

Aku tidak mampu berperan sebagai tokoh yang kuat didalam sebuah kisah, aku tidak akan pernah bisa mengubur rasa cinta dan bersikap jujur, setiap kali aku mengingat semua kenangannya hatiku masih terasa gemetar, dadaku sesak dan air mataku tak cukup kuat untuk dibendung.

Aku berjalan bersama waktu, aku menangis ketika aku merasa tak mampu lagi untuk bertahan, aku mengikuti rotasi percintaan dibumi, seperti air yang mengalir dan bertahan pada suatu muara yang dapat membuatnya tenang, sebelum akhirnya ia kembali membeku bersama awan, lalu diturunkan menjadi hujan kesedihan serta kebahagiaan.

Kembali aku terjebak pada rasa rindu yang menggebu, aku bernostalgia dengan semua rasa haru dimasa lalu, aku bertahan untuk tidak menjemput rasa kecewa yang masih terasa, aku terdiam sejenak mencari cara untuk berpikir jernih supaya tidak mengulangi peristiwa perih, aku berusaha melupakan semua cerita dan kembali melanjutkan keputusan ini.

2 tanggapan untuk “Terjebak Nostalgia di Kota Bandung

Tinggalkan Balasan