Surat Cinta Bagi Petinggi Negara – Pembenci LGBT

Bapak/ Ibu para petinggi negeri, perkenalkan namaku Sepi Maulana Ardiansyah, seorang anak muda yang tidak pernah bisa memilih akan orientasi seksual yang dimilikinya.

Sejak dilahirkan aku sudah merasa berbeda dari beberapa sahabat serta keluarga yang setiap hari ada diberbagai kegiatan hidup, tidak ada yang perlu aku pelajari disaat aku harus memutuskan ingin menjadi apa ketika aku telah dewasa, semua mengalir seperti air dan bergejolak sebesar ombak.

Pernah aku merasa bersalah ketika aku mencoba tidak menghargai hidup dari apa yang telah Tuhan berikan, bahkan aku berniat untuk mengakhirinya.

Bapak/ Ibu yang seharusnya aku kagumi, ketika disebuah acara TV Bapak/ Ibu selalu membenciku yang terperangkap diantara jiwa dan raga yang berbeda, berulang kali Bapak/ Ibu mengaitkanku pada ketentuan agama dan pancasila. Apakah Bapak/ Ibu mengetahui bahwa menjadi LGBT bukan berarti aku tidak mengharapkan Tuhan yang harus kupercaya atau aku juga tidak mencintai Negara Indonesia.

Bapak/ Ibu yang seharusnya aku banggakan, aku minta maaf apabila aku dilahirkan dengan orientasi seksual yang berbeda, lantas apakah Bapak/ Ibu akan terus mempersalahkan perbedaan yang sudah Tuhan ciptakan.

Bapak/ Ibu yang seharusnya aku cintai, mungkin Bapak/ Ibu sudah sangat memahami cinta, suatu hal dasar yang dapat membuat jiwa manusia menjadi lebih hidup, dapatkah Bapak/ Ibu berefleksi jika dipaksa untuk mencintai seseorang yang tidak dicintai.

Bapak/ Ibu yang sedang berbahagia, sering sekali aku bermimpi bahwa Indonesia dapat menjadi rumah yang aman atas segala perbedaan, ketika semua masyarakat dapat saling menghargai, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang aku pikir menjadi hal utama dari berbagai kepentingan lainnya.

Bapak/ Ibu yang beriman ditataran tertinggi negara, Bapak/ Ibu berinisasi untuk merehabilitasi LGBT, bahkan Bapak/ Ibu juga mengharapkan hukuman bagi orientasi seksual yang aku miliki, secara pribadi itu adalah bagian dari hak beropini Bapak/ Ibu semua, tetapi aku disini bersedia menawarkan diri untuk dihukum bahkan dicabut hak untuk hidup yang sedang aku jalankan, sehingga Bapak/ Ibu semuanya dapat berbahagia.

Bapak/ Ibu yang membenciku, aku sangat rela jika memang sisa dari hidupku ini perlu dikorbankan, aku tidak akan merasa bersalah jika kematianku nanti dapat menyelamatkan jutaan nyawa diluar sana, lakukanlah jika hal ini memang sangat diperlukan demi menjawab setiap kebencian yang ada.

Bapak/ Ibu yang semoga saja memiliki hati nurani, aku ingin sekali bercerita bahwa terkadang aku tidak mampu bertahan, hinaan, cacian, stigma dan diskriminasi seakan menjadi santapanku setiap hari, tidak ada peran dari para pemimpin negeri yang membela, atau setidaknya melihatku sebagai manusia yang juga memiliki kesempatan untuk menentukan kebahagiaan, coba bayangkan jika hal ini dialami oleh anak Bapak/ Ibu semua, masihkah Bapak/ Ibu turut membencinya.

Bapak/ Ibu semua, yang terakhir aku ingin menjelaskan bahwa semua ini diluar kehendakku sebagai manusia, aku percaya bahwa aku telah dilahirkan bukan hanya untuk menjadi objek kebencian, ada nilai-nilai kehidupan yang seharusnya juga diperjuangkan, karena aku percaya jika menutup hati dan tidak berpikiran terbuka, maka semua orang tidak akan pernah bisa belajar apa-apa.

2 tanggapan untuk “Surat Cinta Bagi Petinggi Negara – Pembenci LGBT

Tinggalkan Balasan