#STOP Victim – Blaming

Sahabat Ardians, siapapun kamu harus turut berpartisipasi dalam menyikapi kasus kekerasan. Banyak cara yang bisa dilakukan apabila melihat orang terdekat kita menjadi korban dalam kekerasan, salah satunya adalah menghentikan perilaku “victim blaming”.

Victim blaming biasanya dilakukan tanpa didasari rasa empati yang tinggi, ketika korban kekerasan justru menjadi korban untuk kesekian kalinya dengan menerima penghakiman dari orang lain.

Setelah sebuah masalah yang menimpa seorang penyanyi Via Vallen, membuat aku sedikit menerawang mengenai pengalaman pribadiku pada tahun 2012 lalu. “Pada suatu malam, aku diundang oleh seorang pria dewasa untuk menghadiri sebuah diskusi dikantornya. Setibanya aku ditempat tersebut, ternyata tidak ada orang sama sekali”. “Aku dijebak, aku mengalami pelecehan seksual dan hampir menjadi korban pemerkosaan, dengan pintu yang terkunci dan lampu ruangan perpustakaan yang seluruhnya dimatikan”. Setelah aku berusaha menolak dan mengancamnya untuk berteriak, akhirnya dia mulai melepaskan, dan melakukan komunikasi persuasif untuk tidak melaporkan peristiwa ini kepada siapapun.

Setelah itu, pada keesokan harinya aku mengadukan peristiwa ini kepada pemimpin perusahaanya, dengan menuliskan semua kronolis yang aku alami, namun apa yang aku dapat adalah sebuah sikap intimidasi bahwa aku adalah pihak luar yang telah mencemarkan nama baiknya dan perusahaannya. Ketika aku meminta sebuah pertolongan kepada rekan-rekan seniorku, mereka tertawa seolah menjadikan hal ini sebuah lelucon dan berkata “Kamu menolak, karena dia jelek”. Aku belum menyadari bahwa hal tersebut tidak dapat dibenarkan, meskipun sebenarnya perkataan tersebut sangat melukai hatiku yang saat itu masih mengalami sedikit trauma.

Proses mediasi dilakukan, setelah pelaku menuliskan permohonan maaf atas hal yang telah dilakukannya. Namun tidak sampai disitu aku sebagai korbanpun harus menuliskan surat permohonan maaf secara resmi yang menurutnya aku telah melakukan pencemaran nama baiknya dan perusahaannya.

Aku merasakan apa yang sebagian besar korban kekerasan rasakan. ketika kami bersuara bahwa kekerasan dengan bentuk apapun tidak dapat dibenarkan. Namun beberapa orang tidak dapat memahaminya dengan baik, menyalahkan kami dan bahkan turut melakukan kekerasan secara verbal kepada kami sebagai korban. Hal ini harus dihentikan karena victim blaming jelas merupakan hal yang salah karena dampak psikologis dari korban yang dipertaruhkan. Menjadi korban pemerkosaan bisa menimbulkan trauma yang berat apalagi jika victim blaming tetap dilakukan maka dampak psikologis kedepannya akan semakin mengkhawatirkan karena korban pelecehan, pemerkosaan ataupun kekerasan lainnya seharusnya dilindungi, dan mendapatkan dukungan agar siap beraktivitas kembali.

Tinggalkan Balasan