Pengalaman Terbang Bersama Qantas Airways – Australia

Pengalamanku menjelajahi berbagai belahan bumi, mungkin sudah cukup banyak dibandingkan dengan teman-teman dilingkungan terdekatku, dibalik ketidak beruntunganku dalam hidup, ternyata benar bahwa Tuhan maha adil dengan memberikanku keberuntungan yang lebih dari sisi yang berbeda.

Beberapa saat yang lalu, aku memiliki kesempatan untuk menghadiri sebuah workshop mengenai PrEP atau sebuah obat pencegah HIV terbaru yang saat ini sedang banyak di promosikan di seluruh dunia, aku bersama tim yang terdiri dari 5 orang yang diantaranya 2 orang dokter dari RSHS Bandung, 1 orang dari Kementrian Kesehatan, 1 orang dari KPA Nasional dan aku mewakili remaja populasi kunci Indonesia. Dengan bangga bahwa aku bisa belajar serta mengemban tugas Negara bersama orang-orang hebat pada waktu yang bersamaan.

Workshop yang telah aku ikuti ini diselenggarakan oleh Burnet Institute di Melbourne, Australia. Aku menetap disana dalam 2 Minggu lamanya, beserta teman-teman yang lain dari Philippines dan China.
Sebelum keberangkatan seperti biasa aku dan tim beserta pihak sponsor melakukan berbagai diskusi terkait penerbangan, karena itu adalah salah satu syarat dalam melakukan permohonan visa.
Sebetulnya, aku bersama tim yang lain sangat mengharapkan penerbangan menggunakan Garuda Indonesia, karena kami sangat mencintai produk-produk Indonesia dan juga ingin turut membantu pendapatan devisa Negara, namun sayang tiket yang kami harapkan ternyata pada saat itu telah habis terjual. Daripada menyesali apa yang telah terjadi, akhirnya kami banyak berdiskusi mengenai pilihan penerbangan lain yang tersedia, dan melalui berbagai drama yang ada, akhirnya kami mendapatkan tiket untuk terbang bersama Qantas Airways (dibaca: Kuantas) yaitu sebuah maskapai nasional Negara Australia.

Pada perjalanan ini, adalah kali pertama aku menginjakan kaki di Australia dan menggunakan pesawat Qantas Airways, beberapa kali aku membaca review dari Google mengenai maskapai tersebut, dan aku melihat bahwasannya review mengenai pesawat ini masih terbilang sangat sedikit, walaupun pada beberapa artikel mereka menjelaskan bahwa Qantas Airways adalah maskapai yang baik untuk diperhitungkan.

Aku memulai penerbangan dari terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, pada saat itu perjalananku ke Melbourne harus melalui transit terlebih dahulu di Sydney selama 3 jam. Seperti biasa aku melakukan check in dengan petugas yang ramah, aku hanya menunjukan passport beserta E-Visa atau Visa Elektronik, jadi ketika aku kesana tidak ada sticker Visa yang ditempel didalam isi pasportku, cukup disayangkan karena gak ada kenang-kenangan yang terlihat didalam passport, atau setidaknya untuk pamer kepada teman-teman bahwa aku pernah mengunjungi Australia hehe.
Visaku hanya diproses dalam satu hari, jadi ketika hari Senin aku mengajukan permohonan dengan membawa seluruh dokument pendukung ke VFS Global yang berada di Mall Kuningan City, Jakarta Selatan. Dan pada keesokan harinya aku mendapatkan email pemberitahuan bahwa permohonan Visaku diterima.

Baik, kita lanjutkan disaat check in aku bilang bahwa koperku sepertinya mengalami kerusakan, karena aku hanya membawa 1 koper berukuran besar, dan karena sepertinya over kapasitas dengan membawa 2 sepatu, pakaian formal dan casual serta beberapa winter coat, alhasil koperku mengalami masalah pada kuncinya, namun pihak dari petugas counter membantuku dengan memberikan banyak stiker yang mengeratkan koperku, sehingga tidak terlihat dalam keadaan rusak.

Boarding telah tiba, lalu aku masuk kedalam pesawat, seperti biasa flight attendant bersikap ramah, dengan mengucapkan selamat datang, aku masih ingat bahwa mungkin karena ini penerbangan khusus dari Indonesia – Australia, ada salah satu pramugara yang berkali-kali memberikan pengumuman dengan menggunakan bahasa Indonesia, well I’m so proud to be Indonesian dan kadang merasa lucu dengan pronunciation dia yang cukup aneh but I’m appreciate it.

Salah satu yang aku suka dari pesawat ini adalah seatnya yang bagus dan terlihat mewah, aku juga diberikan beberapa snacks serta welcome drink ketika sebelum take off, walaupun tingkat keramahannya tidak seramah dengan orang-orang Indonesia, tapi menurutku mereka juga sudah cukup ramah kok sebagai orang asing dalam melayani para penumpang dari Indonesia yang manja.

Disaat take off, seperti biasa aku menghabiskan banyak waktu dalam memanfaatkan fasilitas entertainment, aku disuguhkan oleh film-film terbaru dan tidak kalah menarik dari hanya sekedar bermain games, dan yang paling bahagia adalah mereka provide kita penutup mata dan telinga serta sikat gigi, dan sebuah earphone yang menurutku ini bagus banget, bahkan aku sampai minta 5 buah untuk dibawa pulang dan aku bagikan kepada para sahabat sebagai hadiah.

Setelah beberapa jam diatas langit, para pramugari dan pramugara memberikanku banyak sekali makanan, tentunya sangat cocok bagi perut orang Indonesia, dimulai dari makanan pembuka, makanan berat dan makanan penutup, selain itu aku juga mendapatkan beberapa minuman ringan, dan karena gak mau rugi, aku juga meminta 1 botol red wine untuk menghangatkan tubuh sebelum tidur.

Tibalah aku di Sydney pada pagi hari, dan maaf kalau aku boleh compare, Airport disini tidak jauh lebih bagus daripada Airport di Changi, Singapura, namun kalau berbicara keamanan, di Airport ini bisa dibilang sangat ketat, karena kita diberikan 1 buah form yang mengharuskan kita melakukan declare atau non declare yang menentukan kita akan keluar melalui pintu sebelah mana, dan karena didalam form tersebut dijelaskan bahwa obat-obatan termasuk barang yang harus di declare, dan karena aku juga realize bahwa aku membawa obat ARV, jadi aku mau tidak mau harus declare dengan bermodalkan sebuah surat keterangan dari Dokter mengenai obat ini, namun setelah aku declare ternyata percuma saja, karena anjing pelacak tidak mampu mencium obat-obatan yang aku bawa.

Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan menuju Melbourne, dan disini aku sedikit upset karena pesawat yang aku tumpangi tidak seindah dari pesawat sebelumnya, walaupun hanya membutuhkan waktu selama 1 jam diudara, namun fasilitas entertainment tentu masih menjadi kebutuhanku dalam menghilangkan rasa bosan.

Tibalah aku di Melbourne, and sorry to say Airport disini kurang bagus, malah aku lebih suka Airport Soekarno Hatta, menurutku Airport ini terlalu biasa bagi Kota sekelas Melbourne.

Melbourne adalah kota yang ramah bagi pejalan kaki, terbukti setiap hari ketika aku pulang pergi dari dan ke tempat workshop kami selalu berjalanan kaki sambil menikmati udara dingin yang tak bersalju.

Singkat cerita, setelah perjalananku selama 2 Minggu disana, aku kembali melalui route yang sama, dan ada hal unik yang aku alami ketika beberapa jam hampir tiba di Jakarta, karena si pemilik passport hijau sudah terkenal sebagai orang yang suka minta, tanpa rasa malu aku meminta 3 botol wine dari pesawat untuk aku bawa pulang ke rumah, sebelumnya sih si pramugara tidak mengijinkan karena katanya tidak akan bisa dibawa masuk ke Indonesia, namun karena aku adalah orang yang tidak mudah menyerah, aku kembali bertanya sama dia, give me the reason or show me that regulations? And I did it, pramugara itu sepertinya terpaksa memberikan 3 botol wine tersebut.
And I’m so lucky, akhirnya 3 botol wine ini selamat sampai tujuan.

8 tanggapan untuk “Pengalaman Terbang Bersama Qantas Airways – Australia

  1. Hi There,

    My name is Steve from SteveWebJobs a professional Animated Promotional Video Company.

    Would you be interested in having an animated marketing video for your company to help increase your online exposure?

    We can create a custom animated promo video to help market your business more efficiently.

    If you’re interested, please reply back to this message and I will send you a link to some animated promotional videos we created so you can see what we can do.

  2. Hello. I see that you don’t update your website too often. I know that writing content is boring and time consuming.

    But did you know that there is a tool that allows you to create new
    posts using existing content (from article directories or
    other blogs from your niche)? And it does it very well.
    The new articles are unique and pass the copyscape test.
    Search in google and try: miftolo’s tools

Tinggalkan Balasan