Perjalanan menjadi HIV Positif


Hai Sahabat Ardians

Pada beberapa artikel terakhir, aku sudah berani untuk terbuka pada kalian bahwa aku hidup dengan HIV, kenapa aku berani bercerita? ya karena aku ingin kalian bisa belajar dari ceritaku, jadi ketika aku menulis blog ini, ada manfaat yang bisa kalian petik.

Kalau kalian bisa rangkum dari beberapa artikel terakhir, mungkin itu seperti kepingan puzzle, nah sekarang aku ingin sedikit bercerita mengenai sebab akibat aku terinfeksi HIV.

Aku merasa bahwa aku terlahir sebagai seorang gay sejak aku lahir, singkatnya ketika aku duduk dibangku SMA, pemahamanku mengenai orientasi seksual cukup terbuka, aku memahami jati diriku yang suka terhadap sesama jenis.

Singkatnya 4 bulan menjelang ujian nasional dan kelulusan, usiaku baru 17 tahun, aku dipanggil oleh guru BP untuk menghadap ke kantornya, dan disana aku mendapatkan interogasi mengenai orientasi seksualku, setelah guruku tau tentang fakta yang sebenarnya, guru itu yang juga merangkap sebagai guru agama dan bahasa, melakukan pelecehan seksual kepadaku, dia bilang bahwa menjadi gay itu identik dengan penyakit, sehingga aku dibawa kesuatu ruangan kelas yang kosong, dan disana aku mendapatkan sebuah pelecehan seksual, yang sampai beberapa tahun terakhir aku masih trauma dibuatnya.

Aku ditelanjangi, telinga dan putingku dihisapnya karena dia bilang, dia ingin memeriksa kesehatanku, dengan pemahamanku yang minim, aku tidak bisa berkata tidak atau melawan bahwa perlakukannya merupakan suatu kejahatan, hingga kejadian itu selesai guru tersebut mengancamku, untuk tidak memberitahukan kejadian ini kepada siapapun, jika ada orang yang tau, maka dia akan membuat hidupku hancur sebagai seorang pelajar disekolahnya.

Sebagai seorang pelajar, dan masih tergolong anak-anak yang dilindungi hukum, aku merasa takut dan merasa tidak nyaman ketika disekolah, sehingga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, dan pergi ke Jakarta tanpa ijin dari keluargaku.

Setibanya di Jakarta, aku harus berpikir bagaimana caranya aku bisa bertahan, hanya dengan membawa bekal uang sebesar Rp, 100,000.-  tidak ada orang yang membimbingku saat itu, lalu aku membuka facebook dan menemukan postingan untuk bekerja disalah satu tempat pelacuran bagi kelompok gay, dan aku terjebak disana.

Disana aku mengalami banyak pengalaman pahit, ketika aku harus berhubungan seks dengan orang yang tidak aku suka, disana aku juga terpaksa untuk menggunakan narkoba bersama para pelanggan, semua aku lakukan hanya demi uang dan melanjutkan hidup sebagai anak yang mandiri.

Hari demi hari aku lalui, hingga pada saat aku berusia 19 tahun, seorang petugas LSM dari Yayasan Inter Medika datang, dan memberikan penyuluhan tentang seks yang aman, dia memberikan banyak informasi mengenai penggunaan kondom dan pelicin, melakukan test HIV secara berkala dan lain sebagainya, sehingga aku merasa bahwa tubuhku memiliki resiko terhadapnya, dan aku meminta dia untuk menemani dalam melakukan test HIV tersebut.

Keeseokan harinya dibawalah aku ke klinik ProCare Jakarta Timur, disana aku mendapatkan pemeriksaan dan hasilnya aku terdiagnosa HIV Positif.

Aku tidak sedih saat itu, karena aku belum begitu banyak mengenal bagaimana hidup dengan HIV, karena pemahamanku yang masih terbatas, dan aku juga percaya bahwa siapapun tidak akan mengenal informasi HIV secara komprehensif hanya dengan 1 atau 2 kali pertemuan saja.

Hingga akhirnya bulan demi bulan aku selalu berbohong pada germoku bahwa aku mendapatkan panggilan dari pelanggan, padahal nyatanya tidak, aku pergi hanya untuk mengikuti sebuah pertemuan bagi orang-orang yang terinfeksi HIV, disana aku banyak belajar dan mendengar berbagai cerita serta pengalaman hidup yang telah mereka lalui.

Hingga pada saat itu, aku memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pekerja seks ditempat itu, dan memilih untuk menjadi seorang relawan di LSM tersebut, hanya dengan 1 mimpi, bahwa aku tidak mau, ada banyak anak-anak atau remaja diluar sana yang memiliki pengalaman buruk seperti apa yang terjadi didalam hidupku.

Bagi sebagian orang, menjadi pekerja seks bukanlah pengalaman yang buruk, aku menghargai mereka yang memilih menjual jasa seks sebagai profesi, bahkan hingga saat ini aku juga memiliki beberapa teman pekerja seks baik laki-laki maupun perempuan, tapi bagiku pribadi itu adalah pengalaman yang tidak pernah ingin aku ingat, karena hatiku tidak berpihak untuknya, yang ada hanya keterpaksaan saja.

Dan aku merasa bangga, bahwa hingga saat ini, aku masih tetap konsisten dalam meraih mimpi-mimpiku, melanjutkan pendidikan, berkontribusi untuk komunitas, teman-teman, dan juga Indonesia.

Mungkin beberapa pembaca artikel ini akan menganggapku kotor, sama halnya ketika aku menilai diriku sendiri pada beberapa bulan yang lalu, sebelum aku bisa berdamai dengan semuanya, sebelum aku melakukan hypnoterapi untuk memaafkan semua pengalaman hidup yang telah aku lalui.

 

8 tanggapan untuk “Perjalanan menjadi HIV Positif

Tinggalkan Balasan ke Hamba Allah Batalkan balasan