Berpidato Didepan Pemerintah Inggris

Beberapa Minggu yang lalu, aku mendapatkan sebuah tawaran untuk berpidato dalam acara Hari Aids Sedunia yang diselenggarakan oleh pemerintah Inggris, aku mewakili remaja Indonesia dan Asia untuk menyampaikan betapa pentingnya dukungan financial dalam program HIV bagi remaja populasi kunci di Asia.

Pemerintah Inggris melalui Robert Car Fund adalah salah satu lembaga yang dalam beberapa tahun terakhir berkomitmen dalam merespon kasus infeksi HIV yang setiap tahunnya meningkat di Asia, dan seluruh dunia, maka untuk tetap menjaga dukungan yang mereka berikan, aku yang merupakan anggota dari Youth Lead Organization, dan juga sebagai penerima manfaat dari program yang mereka berikan diminta untuk memberikan sebuah pidato mengenai pemberdayaan atau manfaat dari dana hibah yang mereka berikan.

Dalam persiapan yang cukup panjang, pada hari pertama aku mengunjungi organisasi LGBT disana, kami banyak berdiskusi mengenai situasi LGBT di Indonesia yang semakin lama cukup mengkhawatirkan, berbanding terbalik dengan pergerakan LGBT di London, karena penerimaan masyarakat disana mengenai keberagaman jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia, setelah itu pada hari kedua aku melakukan pidato digedung pemerintah Inggris, yang dihadiri oleh ketua DPR dan beberapa anggotanya, serta pengunjung dari beberapa instansi seperti aktivis, masyarakat sipil dan media.

Aku memulai pidatoku dengan mengenalkan keindahan alam Indonesia, dan mengakhirinya dengan berupa tangisan dari para audiens yang datang, aku tidak tau bagaimana menjelaskan perasaanku saat itu, tapi aku sangat merasa bangga pada diriku sendiri, seorang remaja kampung dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, dapat berdiri didepan banyak orang hebat, aku cukup percaya diri karena aku merasa bahwa ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bersuara, bahwa aku dan remaja populasi kunci lainnya di Indonesia dan Asia masih sangat membutuhkan dukungan mereka.

Aku memperhatikan setiap tatapan mata yang tajam kepadaku, aku memperhatikan setiap tangisan mereka untukku, bahkan pada saat pidatoku berakhir, salah seorang anggota DPR datang menghampiriku, lalu memelukku dan menangis.

Pada hari ketiga aku memiliki jadwal untuk wawancara bersama media di London, untuk menceritakan kembali semua kegiatan yang telah aku ikuti disini, sebelum akhirnya aku pulang ke Indonesia pada sore harinya.

Berikut adalah naskah pidatoku disana:

Ladies and gentlemen, my name is Sepi Maulana Ardiansyah and I was born and raise in the beautiful country, known for each cultures diversity, the archipelago of Indonesia. My country is very beautiful, except my life as young gay person.

So, today I am here to share my story, the story which began at the early stage of my life, the story of pain and confusion, the story of being contracted with HIV at adolescent, the story of hope and the story of empowerment.

My story begins when I was 17 in the high school. The male teacher of my school asked me to come to his office and investigated about my sexual orientation. After knowing my reality, I was sexual harassed and I got a threat not to tell any about the harassment.

I was too scared to share to anyone and made it very uncomfortable to attend school as the student. Without any support and knowing no one who could help me, I choose to leave the school and my home town only 4 months before my final exam and the graduation. The decision to leave school at that early age became decisive of where I am now.

I went to Jakarta to become child sex worker at the age of 17. I am aware that this term ‘child sex worker’ is sensitive and contesting but this is my reality. I choose to become sex worker because I had no option and there was no one to guide me. I became sex worker to survive. I went through much difficult phase as the sex worker, I had sex with people which I didn’t like, I was forced to use drugs by the clients and I did for the money. And only in two years I was diagnosed as HIV positive at the age of 19.

Ladies and gentlemen, I started my journey in youth movement on 2011, I became a peer educator in a local organization, with one dream, because I didn’t want any other children or young people to have the same kind of bad experiences that I had.

And since 2013 I have been involved in the Indonesian Young Key Populations Forum, a member of Youth Lead Organization. Youth LEAD is a YKP regional network based in Asia. Youth LEAD has supported our development, helped to establish other YKP networks in Asia and creates opportunities for us to learn from each other. Youth LEAD is supported the Robert Carr Fund, founded by the UK Government. The Robert Carr Fund is providing stable funding for global civil society networks led by key populations most affected by HIV.

Ladies and gentlemen, for the last, we are not living in the movie of Harry Potter, where everything we want to change, will changed with a magic, so we have to work together to ending AIDS by 2030, because I believe without the support of donors like the UK government this wouldn’t be possible.

6 tanggapan untuk “Berpidato Didepan Pemerintah Inggris

Tinggalkan Balasan