Pengalaman Berpacaran Dengan Pria Psikopat

Hai Sahabat Ardians, sebetulnya ada banyak sekali pengalaman-pengalaman unik didalam hidupku yang ingin sekali aku ceritakan, mungkin ada sekitar 100 tulisan yang ingin aku bagikan, supaya para sahabat dapat belajar dari setiap proses hidup yang aku lewati.

Salah satunya adalah mengenai cerita pengalamanku ketika berpacaran dengan seorang psikopat, jadi awal mulanya aku mengenal dia dari sebuah Klub Bulu Tangkis di Jakarta, kebetulan selain menulis salah satu hobiku yang lain adalah berolah raga Bulu Tangkis.

Sebut saja namanya Indra, setelah aku berolah raga bersama teman-teman yang lain, dia menghampiriku dan meminta kontakku, aku tidak memiliki harapan besar bersama Indra, karena yang aku tau dia adalah mantan dari salah satu teman badmintonku, meskipun hubungan yang mereka jalani tidak berlangsung lama. Indra adalah sosok pria yang tampan, kulitnya putih dan sejauh aku mengenalnya saat itu, dia adalah orang yang baik.

Indra selalu mengirimkanku sebuah pesan setiap hari, walau hanya sekedar mengucapkan selamat pagi atau mengingatkanku untuk makan siang, setelah beberapa lama komunikasi kami terjalin, selain banyak berdiskusi mengenai olah raga, aku merasa bahwa ada suatu tujuan yang lebih darinya, mungkin bisa aku simpulkan bahwa pada masa itu adalah tahap pendekatan antara kami berdua.

Disaat aku membutuhkan pertolongan, Indra adalah orang pertama yang selalu siap membantu, but wait is not about money ya, karena aku merasa cukup mandiri dalam hal ini, salah satu contohnya ketika AC dikamarku mati, Indra tidak berpikir lama untuk meminjamkanku sebuah kipas angin untuk digunakan, bahkan dia sendiri yang mengantarkannya ke rumah, selain itu disaat aku ingin membeli sepatu olah raga, dia juga menawarkan diri untuk menemani membeli sepatu baru di toko sepatu olah raga favoritnya.

Hingga pada suatu malam Indra menyatakan cintanya, dan karena dia adalah orang baik, maka aku tidak memiliki alasan kuat untuk menolaknya, namun aku memintanya untuk sementara waktu menyembunyikan hubungan yang kita berdua jalani dari teman-teman yang lain, hingga pada saat yang tepat aku merasa siap untuk membicarakan hal ini pada mantan pacarnya bahwa aku bersama Indra telah resmi berpacaran.

Hari demi hari kami jalani, Indra tetap berada pada porsi kebaikannya yang selalu membantu, seperti mencuci baju, belanja dan sebagainya, selain itu Indra juga dapat berbaur dengan beberapa sahabat terbaikku.

Karena hubungan kami berjalan cukup lama, hingga pada suatu masa aku membawanya untuk bertemu keluarga, and yes he got it, and my family accepted karena keramahannya.

Setelah itu Indra juga mengenalkanku kepada beberapa temannya, disini adalah awal mula aku merasa bahwa ada yang salah didalam dirinya, disaat kami travelling bersama dia marah padaku dengan alasan yang tidak bisa diterima, karena Indra merasa cemburu jika aku berkomunikasi dengan temannya itu, okay aku mencoba melakukan refleksi diri, mungkin caraku berbicara terlihat tidak biasa baginya.

Kemudian kami melakukan travelling kembali, namun kali ini aku bersama Indra, juga beserta 2 orang sahabat terbaikku, saat itu salah satu sahabatku juga mengajak pacarnya untuk melakukan liburan bersama, disepanjang perjalanan aku melihat bahwa Indra bersikap tidak biasa, dan kembali seperti masalah sebelumnya, Indra merasa cemburu jika aku berkomunikasi dengan pacar dari salah satu sahabatku, aku merasa tidak terima jika dalam liburan yang seharusya berbahagia, harus dibumbui dengan beberapa Drama Korea ala Indra, sehingga salah satu sahabatku berbicara kepada Indra bahwa alasan Indra cemburu tidaklah tepat, kami bersahabat, dan tidak mungkin akan terjadi hal-hal seperti yang dia khawatirkan.

Aku paham, mungkin Indra tidak ingin jika suatu saat nanti aku berpaling ke hati yang lain, namun dalam hal ini, aku juga mengharapkan rasa percaya darinya, setidaknya untuk meminimalisir konflik yang selalu terjadi.

Aku masih ingat, saat itu aku masih tinggal sendiri dan Indra sedang menginap dirumahku, masih dengan alasan cemburu, Indra melakukan suatu hal yang tidak seperti biasanya, dia mengambil sebuah pisau lalu digoreskan pada lengannya hingga berdarah, aku cukup kaget dan khawatir dengan apa yang Indra lakukan, meskipun aku merasa bahwa apa yang Indra lakukan kali ini cukup berlebihan, atau mungkin dia tidak tau bagaimana caranya untuk mengkomunikasikan dan menyelesaikan setiap masalah.

Ok satu kali, aku masih bisa terima dan aku meminta jika ada masalah lebih baik dibicarakan, setidaknya aku menjadi tau, bagaimana aku bisa memperbaiki diri, lalu aku meminta maaf meski sebenarnya aku sendiri tidak tau apa salah yang sudah aku lakukan sehingga Indra berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri, dan setelah kejadian itu aku berusaha untuk menjadi lebih berhati-hati terhadap Indra.

Hingga pada malam berikutnya, ketika Indra sudah tertidur pulas disampingku, namun aku masih membuka laptop karena masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, kemudian Indra terbangun, dan berteriak sambil membanting laptopku hingga rusak, dia bilang bahwa aku tidak menghargainya, dia capek dan besok harus pergi bekerja, lalu aku bilang kepadanya bahwa kamu tidur duluan saja, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, namun setelah aku jawab sikap marahnya menjadi-jadi, dia menangis dan berteriak, lalu dia mengambil pisau dan kembali melakukan hal seperti sebelumnya, dia menyakiti diri sendiri, aku tidak bisa berbuat apa-apa, setelah aku melihat banyak darah, aku hanya berusaha merebut pisau yang dia pegang, walaupun pada akhirnya tanganku juga terluka karena hal ini, dan aku melemparkan pisau tersebut dari atas balkon rumahku, lalu Indra mematikan semua lampu dan mengunci rumahku dan kembali berteriak sambil menangis tanpa alasan yang jelas, sehingga aku menyadari beberapa tetanggaku juga merasa terganggu dengan suaranya.

Aku hanya terdiam, dan berdo’a bahwa aku akan baik-baik saja, aku takut jika dia juga akan membunuhku malam itu, aku hanya bisa berkata tolong kepada beberapa tetangga yang masih terjaga dan beberapa kali tetanggaku mengetuk pintu, tapi dia tidak mengijinkan untuk membukanya, dia membawa 1 botol Vodca dari lemari es, untuk membasuh luka dan lalu meminumnya, dan aku juga melihat dia memasang beberapa helai perban pada tangannya.

I just quite, aku tidak mau berkata apapun, karena aku takut jika hal ini akan terus berlanjut, beberapa jam kemudian dia memintaku untuk berhubungan seks, meski dalam ketakutan, dan karena aku tidak mau dia akan berulah menjadi-menjadi, akupun terpaksa menurutinya, dalam hati aku hanya bisa merencanakan apa yang harus aku lakukan besok pagi.

Ketika pagi tiba, aku merasa lega karena ternyata aku masih hidup dan bernafas seperti sedia kala, dengan sengaja aku berangkat kerja lebih pagi dari biasanya, dan ketika pintu rumahku dibuka, aku tidak tau bagaimana mengungkapkan rasa bahagiaku karena terbebas dari seorang psikopat, lalu aku merencanakan untuk tidak pulang ke rumah pada hari itu, aku melibatkan beberapa sahabatku untuk membantu menyelesaikan masalah ini, dan sementara aku menetap dihotel hingga masalah ini dapat diselesaikan, karena aku harus berada di tempat yang cukup aman setidaknya untuk mengobati rasa trauma setelah peristiwa itu, sementara beberapa sahabatku menyelesaikan masalah ini dengan Indra, meskipun prosesnya sangat sulit bahkan hampir melibatkan kepolisian hingga terselesaikan.

3 tanggapan untuk “Pengalaman Berpacaran Dengan Pria Psikopat

Tinggalkan Balasan