Pemuda Kampung Terbuka Sebagai ODHA?

Hari ini aku telah positif HIV selama lebih dari 7 tahun. Aku berusia 19 tahun pada saat itu, dan dalam waktu beberapa bulan setelah aku mengetahuinya, aku tergerak untuk terus belajar mengenai hidup dengan status HIV yang baru. Bagian ini menjelaskan bagaimana aku seorang pemuda kampung yang gay dan juga bekerja dalam pencegahan HIV, sekarang menemukan diriku sebagai orang dengan positif HIV.

Sebagian menanggapi dengan kebaikan dan dukungan. Banyak juga orang lain menanggapi dengan menyalahkan dan menghakimi, menyebut aku “gegabah,” “tidak bertanggung jawab,” “bodoh” dan “contoh yang buruk” bagi komunitasku ini. Terbuka sebagai HIV positif adalah proses yang berkelanjutan, seperti terbuka sebagai seorang gay pada saat itu. Beberapa kali aku tampil di depan publik sebagai orang dengan HIV positif karena aku tidak dapat membayangkan untuk berbagi pembelajaran hidup selain dari semua cerita pengalaman hidup yang telah aku lalui. Batinku menolak menyembunyikan sesuatu yang sangat signifikan, secara pribadi dan politik. Aku juga memahami kekuatan pernyataan yang menyatakan bahwa aku positif HIV. Yang lain telah melakukannya sebelumnya, dan sementara itu membuatnya lebih mudah bagiku untuk melakukan hal yang sama, karena terbuka sebagai ODHA masih belum terlalu umum.

Bahkan, aku terbuka sebagai HIV positif sebelum program HIV di Indonesia menjadi sangat baik. Kala itu secara tidak langsung HIV masih merupakan hukuman mati bagi beberapa orang. Menjadi positif HIV secara terbuka pada waktu itu juga berarti mengingatkan orang pada fakta bahwa aku akan segera meninggal, dan itu dapat secara drastis mengubah cara mereka berinteraksi denganku.

Untungnya, pengobatan HIV telah meningkat secara radikal, dan sekarang jika seseorang sedang dalam pengobatan dan mencapai viraload yang tidak terdeteksi, aku dapat hidup dengan umur yang normal. Selain itu, menjadi tidak terdeteksi membuatnya hampir tidak mungkin untuk menularkan virus ini kepada orang lain.

Sains telah berubah dan dunia telah berubah, tetapi manusia dan sifatnya belum berubah. Dan aku harus berkontribusi dalam merubahnya, seperti merubah pola pikir manusia yang menyatakan bahwa HIV dapat menular melalui aktifitas sosial, dan orang yang hidup dengan HIV akan tampak lemah juga akan segera mati, aku termotivasi untuk mematahkan nilai-nilai tersebut bahwa pemahaman yang mereka miliki itu benar-benar salah. Dan aku adalah buktinya.
Meskipun terbuka sebagai HIV positif dapat membuatku rentan dari sudut pandang hukum, karena lebih dari 30 di berbagai negara di seluruh dunia, HIV masih dikriminalisasi secara hukum dan sosial.

Namun, orang yang hidup dengan HIV terus terbuka justru karena hukum yang tidak adil dan sebagai sarana untuk mengubah kebijakan dan memerangi stigma.

Pria gay tidak memiliki rekam jejak yang baik ketika dikaitkan dengan stigma terkait HIV. Aku masih melihatnya di aplikasi kencan gay dan beberapa forum diskusi lainnya, misalnya “suruh siapa kamu jadi gay, jadinya kamu HIV positif”, dan komentar buruk lainnya itu tersebar luas di bagian komentar artikel terkait HIV, dan itu sering dapat didengar dalam percakapan dimanapun, baik dari komunitasku sendiri dan juga masyarakat luas.

Satu hal terbesar yang dapat aku lakukan untuk memerangi stigma adalah terbuka sebagai HIV positif. Terbuka memungkinkan orang lain melihatku untuk lebih memahami cara-cara kompleks HIV berdampak pada semua kehidupan manusia. Tetapi, yang paling penting, terbuka sebagai ODHA adalah cara untuk menunjukkan bahwa aku tidak akan diperintah oleh rasa takut dan juga malu. HIV tidak perlu merasa malu, dan ketika dengan tegas menyatakan bahwa aku positif, aku mengirim pesan ke komunitasku dan dunia bahwa aku tidak akan takut akan penilaian, cemoohan atau bahkan hukum yang tidak adil.

Kemampuan untuk secara terbuka mengekspresikan status HIV ini pada aplikasi jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram, terus mengubah bagaimana ketika aku berhubungan satu sama lain di sekitar HIV. Ini adalah demonstrasi bahwa ada orang-orang yang hidup dengan HIV di ruang daring yang merupakan bagian dari berbagai latar belakang di masyarakat.

Aku, kamu dan mereka adalah manusia yang aktif secara seksual yang mencari koneksi, kencan, dan obrolan. Menjadi ‘terbuka’ di ruang daring juga memungkinkan siapapun yang hidup sebagai HIV positif yang lain untuk menemukan satu sama lain dan membuat koneksi. Koneksi tersebut menjadi semakin penting bagi ODHA yang baru didiagnosis atau yang telah memilih untuk tidak terbuka.

Aku bukan seorang ilmuwan ataupun dokter. Aku tidak dapat mengembangkan vaksin atau obat, tetapi aku memiliki kekuatan untuk memerangi stigma. Kami semua memiliki kekuatan itu. Kami hanya harus memutuskan untuk menggunakannya sebagai manfaat bagi setiap hidup orang lain.

2 tanggapan untuk “Pemuda Kampung Terbuka Sebagai ODHA?

Tinggalkan Balasan