My Bisexual Love

Kamu yang sedang membaca isi surat ini
Masih ingatkah pertama kali kita bertemu?
Malam yang dingin kamu menghampiri sebelum tiba sang matahari.

Pertama kali aku melihat dan menatapmu
Itulah hari pertama aku juga jatuh hati kepadamu
Saat pagi tiba ketika kamu hendak menciumku
Namun aku menolak bukan karena aku tidak suka, tapi karena aku takut terlihat jelek disaat aku terbangun dari mimpi yang telah kita lalui.

Disana aku mulai mendapatkan sebuah harapan
Dengan adanya kamu dihati aku
Dan membuat kenangan-kenangan baru, untuk kita berdua.

Senyumanmu mampu membuatku tersenyum kembali karena kamu begitu manis
Cukup banyak cerita yang bisa kita tuliskan dan kita kenang
Atau mungkin kita sobek dan lupakan.

Banyak keindahan dalam ceritaku yang berbisik untuk selalu menjagamu, bahkan membawamu kedalam mimpi masa depan, karena saat ini kamu adalah segalanya.

Tetapi semua perlahan menghilang
Disaat semuanya telah berubah menjadi kesedihan
Karena takdir yang begitu kejam membuat kita harus saling meninggalkan
Dan ini adalah waktu yang tersisa untuk menyelesaikan kisah yang kita miliki.

Wahai lelaki yang aku kagumi
Aku minta maaf
Karena terlalu mengharapkanmu
Karena memikirkanmu disaat mata ini terjaga
Karena aku ingin selalu berada disampingmu.

Aku minta maaf karena selalu mencoba mencuri perhatianmu
Aku minta maaf karena membalas pesanmu dengan cepat
Aku minta maaf karena cemburu bahwa kamu berorientasi pada keduanya
Aku minta maaf karena berpikir bahwa kamu hanya mencintaiku
Aku minta maaf karena telah mengetahui segalanya
Aku minta maaf atas kesalahan yang selama ini telah aku lakukan.

Aku hanya tak mampu menahan semua rasa yang selama ini kusembunyikan
Karena untuk saat ini, kamu masih segalanya
Aku sadar bahwa untuk bersatu dengan jiwamu akan menjadi sulit
Semua yang aku mimpikan mungkin hanya ilusi dan angan kebahagiaan
Meskipun aku mampu menerima dan menghargai dua panah cinta yang kamu miliki.

Jika saat ini adalah pertemuan terakhir kita
Maka aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal
Terimakasih atas pembelajaran dan kebahagiaan yang telah kamu berikan
Bahagiaku disaat bisa melihatmu dari dekat.

Jogjakarta, 1 Januari 2018

Didalam keramaian Kota Jogjakarta, aku meninggalkannya sebuah kenangan indah yang mungkin akan sulit dilupakan, aku meninggalkan jutaan cinta dan tangis tanpa satu orangpun yang dapat menjadi saksi akan kerapuhan diri yang masih aku rasakan, aku meninggalkan sepucuk surat, sebuah tulisan tentang perasaan yang selama ini aku sembunyikan. Tidak ada kesempatan bagi diriku untuk mengungkapkannya secara langsung, namun aku percaya bahwa melalui surat ini dia dapat memahami apa yang selama ini hatiku rasakan. 10 jam sebelum aku dan dia berpisah untuk kembali ke kota masing-masing, aku meninggalkannya disebuah kamar hotel sendirian, dan meyakini bahwa dia telah membaca puisiku ini, setidaknya untuk meresapi setiap kata yang pernah kutuliskan.

Namanya Rian, seorang lelaki muda yang dalam beberapa bulan terakhir cukup mengganggu pikiranku, dia adalah seorang mahasiswa akhir di sebuah Universitas Islam di Kota Bandung, Rian adalah sosok lelaki yang aku kagumi, karena selain wajahnya yang tampan, tubuhnya yang athletis, dia juga sosok yang sederhana serta misterius. Sedangkan aku Ardian, berusia 3 tahun lebih tua darinya, yang kini tinggal dan bekerja di Kota Jakarta.

3 bulan yang lalu kami dipertemukan melalui sebuah aplikasi kencan bagi komunitas gay, saat itu aku tengah berada di Kota Bandung dalam urusan pekerjaan, dan pada malam hari, menjelang waktuku untuk beristirahat, seseorang mengirimkanku sebuah pesan.

Rian: Hai tinggal dimana

Aku: Disalah satu hotel, dibelakang Mall BIP

Rian: Sendirian?

Aku: Iya aku sendirian, ada apa?

Rian: Mengirimkan sebuah foto lelaki yang sedang duduk disamping kolam renang

“Dalam hati, ah kurang menarik, but it’s ok kalau hanya untuk mengobrol saja”.

Rian: Mau bertemu? kebetulan aku tinggal gak begitu jauh dari hotel itu

Aku: Tapi ini sudah larut malam, karena waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi

Rian: Gak apa-apa kok, aku mau mandi dulu, dan akan mengabarimu  setelah tiba disana

30 menit menunggu, akhirnya dia tiba dan aku persilahkan dia masuk ke kamar, lalu aku memberikan dia sebotol minuman, dan kami sedikit berbincang-bincang.

Dalam hati aku bicara, kenapa foto yang dia kirim melalui pesan berbeda dengan kehadiran seseorang yang saat ini berada dihadapanku, orang ini lebih menarik, tampan, athletis dan bikin hati aku jadi tidak karuan.

Kemudian suatu hal yang kami harapkanpun terjadi, dia mengajakku untuk berhubungan seks, jujur saja bahwa aku merasa deg-degan dan juga bersemangat karena ketampanannya, namun sayang ketika diranjang Rian cukup pasif, namun aku tetap menikmatinya.

Beberapa adegan kami mainkan, dimulai dari ciuman, oral dan anal, bahkan aku juga memintanya untuk meludahi wajahku, aku merasa senang karena dia tidak merasa keberatan dengan hal itu.

Rian adalah seorang Top atau sebagai seseorang yang berperan sebagai insertive, dan aku adalah seorang Bottom yang berperan sebagai receptive, cukup lama kami melakukan hubungan seks,  hingga pada suatu waktu, aku merasa bahwa Rian telah orgasme karena penisnya sudah tidak begitu keras seperti semula. Aku bertanya kepadanya “sudah keluar?” dan dia hanya mengangguk sedikit malu, “sudah gak apa-apa aku bilang” lalu Rian bertanya “kamu gak mau dikeluarin?” dan aku menjawab “sepertinya gak usah, ayo kita bersih-bersih”, setelah itu kami berdua tertidur pulas.

Jam 7 pagi dia terbangun, dan cukup mengganggu tidurku yang masih mengantuk, dia pergi ke kamar mandi serta mengenakan pakaiannya kembali sabelum berpamitan, namun aku kurang begitu menghiraukan karena masih ingin tidur sebelum pergi meeting pada pukul 9 pagi.

Sebelum pergi dia menghampiriku, dan ingin menciumku, tapi aku menolaknya dan aku langsung menutup wajahku, bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku merasa malu jika terlihat jelek saat itu. Tapi dia gak marah, dan berbicara “yasudah aku pulang dulu ya, senang bisa bertemu denganmu” dan aku menjawab “aku juga, kamu hati-hati pulangnya, dan keep in touch.

Setelah dia pergi aku duduk melamun, memikirkan tentang Rian yang dalam hitungan jam sudah mampu merebut hatiku, aku masih merindukan pelukannya saat kami tertidur, aku merindukan sikapnya yang sedikit pemalu dan masih bersikap kedaerahan, lalu aku bergegas untuk menghadiri meeting hingga pukul 5 sore.

Pada malam terakhirku di Bandung, aku memberanikan diri untuk mengirimi dia pesan melalui aplikasi tersebut.

Aku: Hai apa kabar?

Rian: Aku baik, kamu bagaimana?

Aku: Baik juga kok, boleh aku minta kontakmu?

Rian: Bagaimana ya, aku sepertinya belum bisa kasih kontakku

Aku: Oh iya gak apa-apa, aku menghargai itu

Rian: Tapi bentar, kalau BBM mungkin aku bisa kasih, tapi kalau yang lain sepertinya belum berani

Aku: Iya tidak apa-apa, senyamannya kamu saja

Dia memberiku sebuah PIN BBM, lalu aku invite PIN BBM tersebut untuk tetap terhubung dan berkomunikasi dengan Rian, dan aku mengirimkan pesan untuknya, ini Ardian, apakah malam ini kamu sibuk? Sepertinya aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersama”. Namun dia tidak meresponnya, bahkan hingga pukul 12 malam, dia masih tetap saja diam tak menjawab.

Aku berusaha melawan perasaanku untuk tidak mengirim pesan kembali, sebelum dia merespon pesanku yang terakhir, hingga pada keesokan harinya dia baru menjawab pesanku. Hai, kamu dimana sekarang? Aku bahagia sekali ketika mendapat pesan ini, tapi sayang aku sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi saudaraku di tempat lain yang cukup jauh dari Kota Bandung, lalu aku menjawab bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang.

Beberapa hari setelah percakapan terakhirku dengannya, aku merasa bahwa Rian tidak ada menghubungiku sama sekali, dan aku memberanikan diri untuk menyapa Rian melalui aplikasi BBM tersebut.

Aku: Hai kamu, lagi ngapain?

Rian: Aku baru selesai mandi nih

Aku: Cie habis ngapain mandi tengah malam begini?

Rian: Gak ngapa-ngapain kok, cuma baru bangun tidur

Aku: Kok aku kangen ya sama kamu

Rian: Hehehe, hanya tersenyum

Dalam hati, sial untuk apa aku bilang kangen, ini cuma bikin dia besar kepala saja.

Keesokan harinya ketika aku bertugas untuk meeting di Bali, seperti biasa aku mengirimkan pesan:

Aku: Aku lagi di Bali, mau sesuatu dari sini?

Rian: Boleh

Aku: Mau apa memangnya, kain atau topi tradisional gitu suka?

Seperti biasa dia menghilang didalam pesan, aku tidak memiliki cara lain untuk menghubunginya, dan itu sungguh membuat hatiku merasa sedih, tapi disisi lain aku juga tidak memiliki hak untuk marah kepadanya.

Keesokan harinya dia baru menjawab pesanku, tanpa merasa bersalah dia hanya  menjawab terserah. Aku cukup sadar bahwa aku bukanlah kekasihnya, meskipun sebenarnya aku tidak mampu berbohong bahwa aku justru sangat mencintainya, dengan penuh kesabaran aku selalu berusaha untuk membuka topik pembicaraan terlebih dulu, bagaimanapun caranya aku selalu mencoba untuk mencuri simpati darinya.

Entah apa yang terjadi dengan Rian, setiap aku mengirim pesan kepada dia, pasti hanya mendapatkan respon yang sederhana, serta waktu yang cukup lama, berbanding terbalik dengan apa yang telah aku lakukan, aku selalu mengirim pesan lebih dulu dan juga membalas setiap pesannya dengan cepat, bahkan kurang dari 5 menit.

Aku tidak bisa menjelaskan rasa bahagiaku ketika Rian membalas setiap pesanku, walaupun harus menunggu berhari-hari, namun aku cukup bersyukur karena dia masih berkenan untuk berkomunikasi.

Ketika aku tiba di Jakarta, aku mengirimkan pesan kembali kepada dia.

Aku: Rian, aku mau kirim sesuatu untuk kamu

Rian: Kamu sudah kembali ke Jakarta?

Aku: Iya, sudah kemarin, boleh aku minta alamat rumahmu?

Masih dengan waktu yang lama dia membalas pesan terakhirku, mungkin dia ragu untuk memberikan alamat rumahnya, lalu aku mengirimkan pesan kembali.

Aku: Jika kamu tidak mau memberikan alamat rumahmu, mungkin nanti aku ke Bandung, hanya untuk memberikan ini.

Setelah menunggu sekitar 5 jam akhirnya dia menjawab.

Rian: Maaf aku baru pulang dari kampus, lalu memberikan alamat rumahnya

Aku: Ok, nomor telepon kamu berapa? Karena didalam formulir pengiriman harus menyertakan nomor telepon penerima

Rian: Aku gak punya nomor tetap, bagaimana ya?

Aku: Satupun tidak ada? atau kamu takut aku akan meneleponmu?

Rian: Oh tidak begitu, kalau begitu kamu tulis nomor ini saja.

Aku: Baik, aku akan kirim barangnya besok pagi sebelum berangkat ke kantor

Rian: Eh nomor yang tadi dihapus saja, diganti sama nomor yang ini, soalnya yang tadi nomor HP teman.

Aku: Ok, aku kabari nanti jika paketnya sudah aku kirim

Keesokan harinya aku mengirimkan pesanan Rian melalui jasa pengiriman barang, aku membelikan dia beberapa kaos, kain serta topi dari Bali, lalu kemudian aku memberitahukan hal ini kepada Rian.

Setelah 3 hari kami tidak berkomunikasi, akhirnya Rian mengirimkanku pesan

Rian: Paketnya sudah sampai, aku suka banget walaupun kaosnya ada yang kekecilan

Aku: Wah serius kekecilan?

Rian: Dia mengirimkan foto selfie dengan wajah yang sedikit redup

Aku: Oh iya maaf, sedikit kecil ternyata

Rian: Makasih ya, aku suka semuanya

Aku: Aku berencana untuk pergi ke Bali lagi bulan depan, mungkin nanti aku carikan kaos yang ukurannya lebih baik dari itu

Rian: Tidak usah, ini semuanya sudah cukup dan aku suka, kamu kapan ke bandung?

Tiba-tiba Rian bertanya kapan aku akan ke Bandung lagi, lalu aku memeriksa rencana perjalanan kerjaku, sebetulnya aku memiliki jadwal meeting di Bandung 2 minggu yang akan datang. Namun aku pikir itu terlalu lama untuk mengobati rasa rinduku untuk bertemu Rian, dan aku memutuskan untuk mengunjunginya walau hanya 1 hari saja.

Aku: Besok Rabu aku akan ke Bandung, tapi hanya 1 hari

Rian: Sampai bertemu nanti di Bandung

Aku: Memangnya kamu masih mau bertemu?

Rian: Kok kamu ngomongnya gitu? ya terserah kamu sih kalau kamu sudah gak mau bertemu

Aku: Wah aku masih mau kok, yasudah aku coba cari hotel dulu ya

Dengan semangat aku mencari sebuah hotel untuk bertemu Rian, dan aku memberitahu Rian bahwa aku sudah memesan 1 kamar disalah satu hotel di Kota Bandung.

Aku: Aku sudah pesan kamar di hotel ini

Rian: Hotel itu cukup jauh dari rumahku, bagaimana ya?

Aku: Oh jauh ya dari rumahmu, ada saran hotel mana yang harus aku pesan?

Pikirku, aku dari Jakarta ke Bandung, bahkan lebih jauh dari rumahnya menuju hotel tersebut, tapi dia masih mengabaikan hal ini, dia egois pikirku, namun aku tetap mengalah untuknya dan memutuskan untuk membatalkan pesanan dihotel yang telah aku pesan sebelumnya, lalu memesan kamar hotel sesuai dengan rekomendasi Rian.

Lalu aku memberitahu Rian bahwa aku sudah memesan 1 kamar di hotel yang dekat dengan rumahnya, aku juga menawarkan dia untuk menginap karena aku sudah memesan kamar beserta sarapan pagi untuk 2 orang, dan aku akan tiba di hotel tersebut pada hari Rabu siang.

Pada hari Rabu pagi aku memberitahu Rian bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju Kota Bandung, namun Rian tidak menjawab pesanku, mungkin dia sedang dikampus pikirku, hingga aku tiba dihotelpun Rian masih belum membalasnya, kemudian aku berinisiatif untuk mengirim pesan lagi kepadanya, dan memberitahu dia bahwa aku sudah tiba di Bandung.

Hingga malam tiba Rian belum juga membalas pesanku, dia menghilang bagaikan ditelan bumi, hanya ada 2 cara untuk menghubunginya yaitu dengan menelepon atau mendatangi alamat yang pernah dia berikan padaku saat mengirimkan pesanannya dari Bali, aku pikir berulang-ulang apakah aku akan menjadi orang yang ingkar janji jika aku melakukannya, aku khawatir bahwa hal ini akan mengganggu kerahasiaannya yang selama ini mungkin dia sembunyikan, aku takut dia kecewa atau marah, tapi disisi lain aku juga tidak bisa berbohong bahwa aku juga merasa benar-benar kecewa dengan sikapnya kali ini.

Hingga keesokan harinya sebelum kepulanganku ke Jakarta, Rian baru menjawab pesanku.

Rian: Kamu sudah di hotel?

Namun aku tidak menjawabnya karena masih sedikit kecewa dan sedih, kemudian Rian mengirimkanku pesan berulang-ulang.

Rian: Aku pikir besok, sambil mengirimkan emosi sedih.

Rian: Sampai kapan kamu di Bandung?

Dengan berat hati aku membalas pesannya

Aku: Sebentar lagi aku pulang

Namun setelah itu Rian tidak membalas pesanku kembali, hingga akhirnya aku tiba di Jakarta dengan kesedihan.

Keesokan harinya Rian mengirimkan pesan kepadaku.

Rian: Sudah pulang?

Aku: Sudah kemarin sore, kamu gak mau minta maaf?

Rian: Iya maafin aku, kemarin aku benar-benar sibuk, karena ada kegiatan di kampus, benar-benar capek dan gak bisa pegang HP”, ujarnya

Aku: Iya” dan mengirimkan emosi senyum

Rian: Minggu depan kamu jadi tugas ke Bandung?

Aku: Iya” dan mengirimkan emosi senyum kembali

Mungkin Rian sadar bahwa aku kecewa atas sikapnya, hingga dalam 1 Minggu terakhir kami tidak berkomunikasi sama sekali, aku bingung apakah aku harus tetap bertahan dalam situasi ini, mengikuti semua kata hatiku, mengejar cinta yang selama ini aku mimpikan dengannya, atau aku harus melupakan Rian, dan memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi.

Semakin aku berusaha menjauh, justru perasaanku ini semakin kuat, aku merasa tidak berdaya dibuatnya, setiap hari yang ada didalam pikiranku hanyalah Rian. Mungkin ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan selama hidup dalam kisah percintaan, dengan bersusah payah untuk mengejar cinta yang tak pasti kebenarannya, namun aku menjadikan ini sebagai suatu tantangan hingga pada suatu saat nanti aku akan lelah dengan sendirinya, dan memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupannya.

Hingga pada Minggu berikutnya aku bertugas ke Kota Bandung, dan setiap kali aku mendengar Kota ini, didalam pikiranku hanya ada nama dia “Rian” yang dalam beberapa bulan terakhir cukup mengganggu waktu tidurku.

Aku mengabaikan rasa kecewa yang pernah aku alami, dan setibanya di Bandung, aku mengrimkan dia sebuah pesan.

Aku: Rian?

Rian: Hai, kamu lagi di Bandung?

Aku: Iya nih, mau bertemu?

Rian: Tidur dimana?

Aku: Dihotel ini …..

Rian: Serius? dekat banget, parah.

Aku: Makan diluar yuk?

Seperti biasa Rian tidak manjawab pesanku lagi, hingga pada jam 7 malam dia baru menjawab.

Rian: Sudah makan?

Aku: Sudah, barusan order di Hotel

Rian: Iya, aku juga sudah makan

Aku: Ya tidak-apa, kamu jadi kesini?

Rian: Jadi sebentar lagi, tapi aku gak nginap ya, karena besok aku ada ujian

Aku: Iya terserah kamu, bagaimana kamu nyamannya saja

Kemudian aku memberitahukan nomor kamarku kepada Rian, hingga tidak berselang lama seseorang mengetuk kamarku, dan aku mengintipnya dari lubang kecil pada pintu kamarku, dan aku melihat Rian sedang berdiri didepan kamar. Rasa gugup seperti pertama kali kita bertemu datang kembali, berkali-kali aku bercermin sebelum aku membukakan pintu untuknya.

Lalu aku membukakan pintu untuk Rian, dan mempersilahkannya masuk, maaf lama karena habis dari kamar mandi, ujarku”, gak apa-apa jawabnya, kamu apa kabar?, aku baik kamu bagaimana, terangku” dan dia hanya tersenyum.

Dalam hatiku, ah akhirnya bisa bertemu dia lagi, aku sangat merasa bahagia dibuatnya, aku melihat senyumnya yang manis, kulitnya yang putih mulus, bibirnya yang seksi, hidungnya yang mancung, tubuhnya yang athletis, ah sosok yang cukup sempurna untukku.

Aku melihat Rian berbaring diatas kasur, dan menatapku, lalu Rian bilang, “nanti aku gak nginap disini ya, karena besok ada ujian”, dan aku bilang iya gak-apa kok, sudah melihatmu saja aku sudah cukup bahagia, dan Rian bilang, ah kamu bisa saja.

Kemudian aku banyak bertanya mengenai keseharian dia, kami cukup banyak bertukar pikiran mengenai kehidupan, hingga waktu menunjukan pukul 12 malam, akhirnya Rian memutuskan untuk tidur bersamaku dihotel.

Sebelum tidur kami berhubungan seksual seperti biasa, bahkan Rian mengalami organsme sebanyak 2 kali, tak apa waktu istirahatku terganggu, yang jelas aku bahagia karena mampu membuatnya bahagia.

Pada pagi hari Rian terbangun, dan seperti biasa Rian berpamitan dan berjanji untuk menemuiku pada malam hari, dia juga berjanji untuk pergi makan malam bersama, hingga pada sore hari aku mengirimkan pesan kepadanya.

Aku: Lagi ngapain kamu?

Rian belum membalasnya

Lalu aku mengirimkan pesan kembali pada pukul 9 malam.

Aku: Apakah kita jadi pergi makan malam? Kalau tidak mungkin aku akan memesan makanan dihotel saja.

Rian membalas pesanku pada pukul 1 pagi, dia hanya menjawab “sorry aku ketiduran, dan tadi aku sudah makan, jadi masih kenyang”.

Because I realize that Rian is not my boyfriend, dan untuk kesekian kalinya akupun merasa tidak memiliki hak untuk marah kepadanya, bahkan perasaan kecewapun masih mampu aku sembunyikan.

Berhari-hari aku hanya mampu berkomunikasi dengan Rian melalui sebuah aplikasi, dan hampir setiap bulan aku ingin mengunjungi Bandung hanya sekedar untuk bertemu dengan Rian.

Merasa hubunganku sudah cukup dekat dengan Rian, aku mengajaknya untuk pergi berlibur ke Jogjakarta untuk merayakan malam tahun baru bersama, dan aku membelikannya sebuah tiket kereta dan juga tiket pesawat untuk kepulangannya.

Kami banyak berdiskusi mengenai rencana perjalanan kami, menentukan tempat-tempat wisata tujuan beserta hotel untuk kami menginap selama di Jogjakarta, karena aku yang mengajaknya maka aku juga yang harus bertanggung jawab atas semua beban biaya selama liburan ini, meskipun aku bukan orang kaya, tapi aku memiliki sedikit tabungan setidaknya untuk mengapresiasi kebahagianku sendiri.

Ketika aku berencana untuk membelikan dia sebuah tiket, aku meminta data dirinya dengan mengirimkan foto kartu identitasnya, dan setelah mengetahui sebuah kenyataan bahwa Rian bukanlah nama yang sebenarnya.

Rian merasa bersalah, karena selama ini telah membohongiku, bahkan disaat aku menuliskan sebuah notes untuknya dari Eropa yang bertuliskan nama Rian, bahwa itu bukanlah nama yang sebenarnya, tentu itu bukanlah sebuah masalah besar bagiku, justru aku bisa mengenal lebih dalam tentang siapa Rian yang sebenarnya.

Setelah aku mengetahui nama Rian yang sebenarnya, aku mencoba untuk mencari tau dirinya lebih jauh melalui internet, dan ternyata Rian adalah seseorang yang memiliki jiwa narsistik yang cukup tinggi, karena hampir semua sosial media dia memiliki, dimulai dari Facebook, Instagram, Bigo, Twitter dan juga Snapchat. Cukup berbanding terbalik dengan apa yang sejauh ini aku amati, karena dia adalah sosok yang pendiam, bahkan disaat kita sering bertemu dia hampir tidak pernah memainkan HP nya.

Satu hal yang cukup membuatku terkejut adalah bahwa Rian adalah seorang biseksual, dia memiliki seorang kekasih perempuan, sebetulnya biseksual bukanlah sebuah masalah bagiku, aku cukup menghormati setiap ketertarikan seksual seseorang yang sangat beragam, dengan catatan bahwa jika dia sedang menjalin suatu hubungan dengan seseorang maka dia harus menjaga hubungannya tersebut, menjadi biseksual bukan berarti dia bisa berperan sebagai seorang “omnivora” atau memakan segalanya dalam waktu yang bersamaan, seorang biseksual harus menghargai sebuah hubungannya dengan siapapun hanya dalam satu waktu, ketika dia sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan, maka dia harus menghargai hubungannya dengan perempuan tersebut, begitupun dengan laki-laki. Namun aku tidak mau terlalu banyak berasumsi tentang hal ini, salah satu cara yang paling tepat adalah dengan mengajaknya berbicara secara langsung.

Perjalananku ke Jogjakarta, akan aku mulai dari Bandung dengan menggunakan kereta dipagi hari, dengan alasan bahwa aku bisa pergi berdampingan bersama Rian. Namun rencana itu menemukan sebuah hambatan, karena setelah aku mencoba mencari tiket kereta dari Jakarta ke Bandung pada pagi hari dan dihari yang sama ternyata tiket tersebut telah habis, lalu aku pergi ke sebuah Shelter Travel untuk memesan sebuah tiket pada jam yang sesuai dengan yang aku butuhkan, namun ternyata tidak ada keberangkatan pada pukul 3 pagi, aku khawatir jika aku berangkat menggunakan travel pada hari yang sama serta waktu yang terlalu berdekatan, maka aku akan terlambat untuk melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta, sehingga aku memutuskan untuk berangkat pada 1 hari sebelumnya.

Aku membertitahukan hal ini kepada Rian, namun Rian tidak berkenan jika aku tidur dirumahnya, sehingga aku memutuskan untuk memesan sebuah kamar hotel yang letaknya tidak begitu jauh dari stasiun kereta tersebut.

2 hari menjelang keberangkatan kami ke Jogjakarta, Rian mengirimkan pesan kepadaku.

Rian: Kamu sudah pesan travel?

Aku: Belum nih

Rian: Loh gimana kamu ini, cepat pesan lah ini kan long weekend nanti tiket travelnya habis…

Aku: Iya, bookingin dong hehe dengan nada manja

Rian: Yasudah aku bookingin, mau travel apa?

Aku: Eh tumben kamu perhatian, biasanya juga enggak kaya gini haha candaku

Rian: Hmm                                                         

Aku: Udah gak usah di booking, nanti aku langsung ke travel saja, ada dekat rumah, aku yakin pasti masih ada kursi yang kosong

Rian: Ok, nanti beritahu aku kalau kamu berangkat ke Bandung

Aku cukup bahagia dengan sedikit perhatiannya, Rian yang selama ini aku kenal cuek justru sedikit mulai berubah, tidak peduli bagaimana kebenarannya, yang jelas dengan ini aku cukup bahagia.

Keesokan harinya aku mengirimkan Rian pesan

Aku: Aku lagi menuju ke Bandung

Rian: Sudah jalan?

Aku: Iya sudah

Seperti biasa dia menghilang, sehingga ketika ditengah perjalanan dia baru membalas pesanku

Rian: Kamu sudah sampai?

Aku: Belum, macet banget soalnya

Rian: Oh, nanti kabari ya kalau sudah sampai hotel

Aku: Okay

Dalam hati aku bicara, mungkin Rian akan menginap dihotel dan pergi bersama menuju stasiun keesokan harinya, senang dengan perasan itu? tentu iya, karena aku akan lebih cepat untuk melihatnya kembali.

Aku lupa untuk memberitahu Rian bahwa aku sudah tiba dihotel, karena setiba di Bandung, aku langsung mengunjungi sebuah rumah makan sunda favoritku, hingga akhirnya Rian mengirimkan pesan kepadaku pada pukul 9 malam.

Rian: Sudah dimana?

Aku: Sudah dihotel nih, tadi sampai sini jam 8 langsung cari makan

Rian: Oh yasudah, sekarang kamu istirahat ya

Aku: Loh, kamu gak jadi kesini?

Rian: Emang aku bilang, aku mau tidur disitu? besok aku berangkat dari rumah saja ya

Aku: Aku pikir kamu bakal nginep disini sama aku, soalnya kamu dari tadi selalu tanya jam berapa sampai hotel, ya salah sangka lagi aku.

Rian: Ya gak bisa, karena mau ada temen-temen ke rumah

Aku: Oh gitu, yasudah kasihan teman kamu jauh-jauh datang kesitu, tapi nanti kamunya gak ada, “dalam hati, apa dia sadar bahwa aku ini lebih jauh dari temen-temennya, dan jarang ketemu juga.

Rian: Gimana kalau aku kesitu sebentar aja?           

Aku: Karena sudah agak kecewa, aku bilang “oh gak usah, kasian temen-temenmu kalau ditinggal”, dalam hati buat apaan sebentar, emangnya aku ini lagi dirawat dirumah sakit

Rian: Gak apa-apa kok, nanti pas mereka datang, aku mau pamit keluar sebentar

Aku: Gak usah, nanti kamu disana kumpul sama teman-temanmu, begadang, tidur pagi dan bangun siang, lupa lah kalau besok kita akan berangkat

Rian: Iya enggak kok, besok pasti datang.

Aku: Sudah tau kan besok jam berapa di stasiun?

Rian: Sudah, jam 9 di stasiun ya, eh bagaimana hotelnya?

Aku: Dalam hatiku yang cerdik, aku mencoba menjadi setan pengganggu hatinya Rian, hotelnya jelek banget, takut aku disini, sudah jam 12 masih belum bisa tidur juga, temenin dong sambil mengirimkan emosi sedih

Rian: Jelek kenapa?

Aku: Iya ini hotel tua, AC nya berisik, kamar mandinya kotor, sepi dan diluar jendela gelap banget

Rian: Masa sih? Aku ini lagi packing

Aku: Yasudah kalau gak percaya, huh nadaku kecewa

Rian: Aku baru selesai packing, haha sambil mengirimkan emosi tertawa

Aku: Gak lucu, ngapain ketawa?

Rian: Siapa juga yang lagi ngelawak, udah tidur sana, paksain supaya besok bisa bangun pagi

Aku: Tau ah gelap

Sepanjang malam aku memang tidak bisa tidur, karena aku masih mengharapkan kehadiran Rian, atau mungkin juga terlalu exited untuk berlibur bersama Rian sang misterius.

Berkali-kali aku memeriksa HP, namun tidak ada pesan dari siapapun, lalu aku menonton YouTube, bermain games hingga menjelang pukul 7 pagi, dan ya aku tidak bisa tidur hanya karena mengharapkan kehadiran Rian malam itu.

Pukul 7 pagi aku mandi, sarapan dan membeli beberapa cemilan di mini market, karena perjalanan kami ke Jogja akan menghabiskan waktu selama 7 jam, aku tidak mau melihat Rian kelaparan nantinya.

Aku tiba di Stasiun 30 menit lebih awal dari waktu yang telah kami sepakati, aku duduk di coffee shop, sambil gelisah menunggu kehadiran Rian.

Dalam hati, kemana sih Rian, ini sudah jam 9 batang hidungnya belum juga terlihat.

Merasa galau akan kebiasaan Rian yang beberapa kali mengingkari janji, aku sempat merasa khawatir bahwa itu akan terjadi lagi, sebelumnya aku berpikir bahwa aku tidak perlu menghubunginya karena kita sudah menyepakatinya tadi malam, namun karena waktu semakin sempit, hingga akhirnya aku kembali mengalahkan rasa egoku untuk menjadi keras kepala, waktu hanya tersisa 15 menit sebelum keberagkatan, Rian belum juga datang, hingga akhirnya aku menelpon dia, dan bertanya tentang keberadaannya.

“Rian, kamu dimana? kan kita sudah sepakat untuk bertemu jam 9 pagi”. Iya aku masih di jalan, sebentar lagi aku sampai”. Ucapnya lalu telpon kami terputus.

Aku sedikit curiga bahwa Rian baru berangkat dari rumahnya, aku berinisiatif untuk mencetak tiket dia, sambil merasa gugup bahwa sepertinya dia akan tiba terlambat, aku menunggunya dipintu masuk keberangkatan, aku berdiri sambil menggenggam 2 tiket yang sudah kami pesan.

Waktu hanya tersisa 3 menit, Rian baru menunjukan wajahnya, antara kesal, sedih dan bahagia, sebetulnya aku ingin sekali marah, tapi ketika melihat wajahnya yang tampan, akhirnya aku terenyuh kembali, segera aku memberikannya sebuah tiket, lalu aku pergi terlebih dulu, dan Rian mengejarku dari belakang.

Saat memasuki kereta, dan aku sudah duduk dikursiku, Rian tiba dan tersenyum, aku langsung menutup wajahku menggunakan bantal, namun Rian berkali-kali mengajakku ngobrol, dan akhirnya perasaanku menjadi lebih tenang.

Didalam kereta kami banyak berbicara mengenai rencana-rencana kami di Jogja, dimulai dari perjalanan hari pertama hingga kembali.

Aku melihat suatu hal yang cukup berbeda dari yang selama ini aku amati, sepengetahuanku, Rian sangat jarang memegang HP nya, bahkan membalas pesankupun harus membutuhkan beberapa jam atau 1 hari untuk membalasnya, namun itu tidak terjadi pada hari ini, aku melihat dia disepanjang perjalanan, HP tersebut tidak pernah lepas dari genggaman tangannya, entahlah aku mencoba untuk berpikir positif, bahwa mungkin ini adalah waktu luangnya, sehingga dia memanfaatkannya untuk bermain HP.

Dalam perjalanan aku mencoba untuk menggoda Rian yang sedang asik bermain HP, lalu aku bilang “Rian, aku bisa sulap loh?”.  “Masa coba tunjukin katanya”. Kemudian aku minta Rian untuk meletakkan HP nya, dan aku baringkan bersama HP yang aku miliki, lalu aku seolah-olah sedang membaca mantra, menutup mata dan mengarahkan tangan kananku kepada HP yang kami miliki, lalu aku bilang “sudah selesai, aku sudah selesai bermain sulap untuk mencuri beberapa foto-fotomu”, dan Rianpun merasa heran.

Setelah itu aku juga menggoda Rian, karena dia sedang memakai sepatu yang tampak masih baru, aku bilang sama dia, “cie yang mau ke Jogja sampai beli sepatu baru dulu”,  dan Rianpun malu lalu menjawab secara defensiveoh ini bukan karena mau ke Jogja kok, ini karena sepatuku dirumah hilang, jadi aku membeli sepatu ini”.

Dalam perjalanan aku meminta ijin kepada Rian untuk duduk dibangku seberang, karena aku ingin memanfaatkan waktuku selama 7 jam ini untuk melanjutkan tulisan ini mengenai kisahku dan dia, sambil berkali-kali aku mencoba menatap wajahnya, ketampanannya, pesonanya, auranya dan semua kelebihan yang Rian miliki, meskipun yang aku lihat dia masih saja asik bermain HP nya sambil mendengarkan musik.

Setibanya di Jogjakarta kami pergi ke Starbucks, kebetulan coffee shop favoritku ini tidak begitu jauh dari stasiun ketika kereta yang kami tumpangi sampai, Rian memesan sebuah Frapuccino dan aku memesan Caramel Machiato yang selama ini masih menjadi minuman favoritku, Rian menuliskan namanya pada cup kopi yang dipesannya, dan aku menuliskan nama cinta, karena jika digabungkan akan menjadi Cinta Rian, dan akupun memfoto 2 cup minuman tersebut. Walaupun Rian keberatan dengan apa yang aku lakukan, tapi aku menjelaskan padanya bahwa aku akan menjaga setiap rahasia yang dia miliki.

Selesai meminum kopi, lalu kami pergi ke sebuah tempat angkringan karena aku mendapatkan tugas mendadak untuk melakukan wawancara, lumayan pikirku untuk menambah budget liburan kami berdua, setelah selesai lalu kami pergi ke hotel tempat kami menginap.

Setibanya di hotel, kami banyak berbicara mengenai orientasi seksual Rian, dan dengan jujur dia menjelaskan bahwa dia memiliki seorang kekasih perempuan, lalu akupun mendapatkan informasi akan nilai ketertarikannya, Rian menjawab bahwa dia tertarik sebesar 70% kepada seorang perempuan dan 30% kepada seorang laki-laki, selain itu dia juga menjelaskan bahwa bersama laki-laki hanya sebagai pemuas hasrat seksualnya saja, tidak akan mungkin menggunakan perasaan dalam menjalaninya, akupun terdiam dan cukup sedikit kecewa dengan perkataannya, namun aku tidak bisa memaksakan prinsip hidup seseorang, begitupun dengan prinsip hidup yang aku miliki.

Setelah Rian bercerita, lalu kami memutuskan untuk pergi ke sebuah bar didekat hotel, lalu kami memesan 4 gelas tequila dan 4 botol smirnoff untuk menghangatkan tubuh, dan tanpa disadari minuman tersebut membuat kami berdua sedikit mabuk, karena aku merasa khawatir, aku mengajaknya dia pulang ke hotel, dan sesampainya di hotel kami bercinta seperti biasa, ada hal yang berbeda dari cara Rian memanjakanku malam ini, dia melumat bibirku tidak seperti biasanya, dan melakukannya dengan sangat agressif, dan kamipun melakukan hubungan seksual yang tidak biasa seperti melakukan adegan hardcore dengan cara Rian mengencingi seluruh tubuhku dan mulutku, aku cukup nyaman dengan hal ini, karena ini adalah salah satu fantasi seksual yang aku harapkan, hingga setelah berjam-jam Rian tidak kunjung orgasme, mungkin karena pengaruh dari alkohol yang diminumnya, sehingga membuat hubungan seksual kami ini bertahan cukup lama, hingga pada penantian yang panjang Rianpun orgasme, dan kamipun tertidur pulas.

Keesokan harinya, jam 8 pagi kami sudah bangun, mandi lalu pergi sarapan, setelah itu kami pergi kembali ke kamar, saat dikamar Rian mengajakku untuk bercinta kembali, akupun tidak mampu menolak setiap hal yang Rian inginkan, meskipun sebetulnya aku sedang lelah, namun untuk membahagiakannya pada liburan ini, aku bersedia untuk melakukan apapun untuknya.

Setelah itu kami merencanakan untuk menghadiri sebuah acara pergantian malam tahun baru, ya Borobudur adalah tempat yang kami putuskan meskipun jaraknya cukup jauh dari hotel kami, dan kami mencari informasi untuk merental sebuah mobil, namun apa daya bahwa hampir setiap tempat jasa sewa kendaraan sudah tidak memiliki mobil yang tersisa, selain itu pihak hotel juga menjelaskan bahwa pada Minggu ini harga turut naik menjadi lebih mahal, karena sudah dipesan semuanya, dan akhirnya kami memutuskan untuk menyewa sebuah motor saja, itupun dengan harga yang cukup mahal berkisar 3 kali lipat dari harga biasanya.

Pada sore hari kami pergi ke Borobudur, kami menghabiskan waktu lebih dari 1 jam hingga tiba disana, lalu kami membeli 2 buah tiket konser Andien yang kebetulan akan dilaksanakan pada malam tersebut beserta acara-acara hiburan lainnya, lagu-lagu romantis yang Andien nyanyikan tidak mempengaruhi hubunganku dengan Rian, seperti lagu Cinta dari Chrisye dan juga Kasih Putih lagu dari Gleen Fredly yang dicover ulang olehnya dan juga dibawakan dalam salah satu albumnya, Rian masih saja fokus pada gadget yang tidak pernah lepas dari genggamannya.

Dalam sela-sela acara tersebut, aku mencoba untuk terbuka kepada Rian, mengenai sisi lain dari hidupku, dan aku juga mencoba untuk menggali tentang kehidupan Rian namun semua itu tetap saja tidak berhasil, aku melihat Rian semakin melupakanku yang sedang berada disampingnya, dan hanya fokus pada gadget yang dia miliki, lalu aku bertanya kepada Rian, apakah Rian bahagia pada malam ini? Dan dia hanya menjawab iya dengan mimik yang sederhana.

Pada acara terakhir di Borobudur, aku mendapatkan sebuah kertas yang harus aku tulis sebagai harapanku dimasa depan, sebelum aku tempel pada sebuah lampion yang akan aku lepaskan, selain menuliskan segala cita-cita yang masih ingin aku raih, aku juga menuliskan sebuah permohonan untuk Tuhan.

“Tuhan, jika Rian adalah orang yang baik, aku minta padamu untuk mendekatkan hatinya kepadaku salama kami sedang bersama disini, namun apabila Rian bukanlah orang yang baik, maka aku memintamu untuk menunjukan segala keburukannya”.

Berkali-kali aku melihat Rian mengabadikan setiap hal yang dia lihat, dan aku menawarkan Rian untuk berfoto, namun dia menolaknya, dan bilang bahwa dia tidak suka berfoto, sedangkan dari apa yang aku amati dari sosial medianya, cukup banyak foto tentang dirinya, ya aku tau bahwa dia sedang berbohong. dia tidak ingin berfoto berdua ataupun sendiri dengan menggunakan HP yang aku miliki, berkali-kali aku mengalah untuk menghindari konflik bersama Rian, aku mengalah dan berusaha untuk mendapatkan sedikit saja perhatiannya, aku bersabar dan berharap bahwa dalam sisa waktu yang tersisa, Rian akan sedikit berubah.

Kami menghabiskan waktu di Borobudur hingga pukul 2 pagi, dan kami berencana untuk singgah di Bar yang sama seperti malam sebelumnya, kami tidak banyak menghabiskan waktu disana, kami hanya menikmati 2 botol bir sebagai penghangat tubuh kami yang sedang kedinginan, lalu kami memutuskan untuk segera pulang ke hotel.

Setiba dihotel, aku merasa sangat lelah, tubuhku merasa lemas, dan aku berbaring ditempat tidur, aku melihat Rian masih asik bermain HP, lalu meminta Rian untuk turut beristirahat dan aku juga memintanya untuk segera mematikan lampu kamar, namun berkali-kali aku memintanya, Rian tidak menjawabnya, aku sedikit kesal, daripada aku marah-marah, kemudian aku memutuskan untuk pergi keluar kamar dengan mambawa sebungkus rokok dan juga laptop, aku duduk di lobby hotel untuk merokok dan juga menuliskan sebuah surat untuknya hingga pukul 5 pagi.

Pukul 10 pagi aku melihat Rian masih tertidur pulas, saat dia tidur aku mencuri waktu untuk ngeprint surat yang akan aku berikan untuknya, sebetulnya aku ingin sekali menjelaskannya secara langsung bahwa aku telah berusaha untuk membahagiakannya dengan cara yang sederhana, tapi aku merasa bahwa dia tidak pernah menghargai semua pengorbanan yang aku berikan, bahkan kesempatan untuk sedikit berbicara seriuspun menjadi suatu hal yang sangat sulit, sehingga akhirnya aku  merasa lelah dan memutuskan untuk merencanakan sebuah perpisahan dengannya.

Ketika Rian terbangun, dia memintaku untuk menaminya ke sebuah pantai di Jogjakarta, lalu kami memutuskan untuk pergi ke pantai Parangtritis, lalu akupun mengiyakan dengan syarat bahwa aku perlu waktu untuk memiliki tidur siang, dan kami pergi ke pantai pada sore hari, masih perjalanan yang cukup jauh, karena untuk menuju ke pantai tersebut kami harus menghabiskan waktu selama 1 jam, dipertengahan jalan hujanpun turun, kami berteduh disebuah tempat dipinggir jalan, kondisi yang cukup romatis, alam seolah memahami perasaanku untuk sedikit saja mendapatkan sebuah senyuman dari Rian, namun kisah romantis inipun hanyalah khayalan, karena Rian bukanlah sosok orang yang cukup romantis.

Sesampainya dia pantai, Rian mengganti pakaiannya dan pergi bersama gadgetnya, aku bilang pada dia bahwa aku akan menunggunya disebuah kedai, selama 2 jam aku duduk sendirian, ditemani oleh si Mbah pedagangan dikedai tersebut, dan disana aku menyadari bahwa ternyata Mbah tersebut adalah sosok orang yang cukup komunikatif, kami banyak bertukar pikiran tentang kehidupan, dan aku juga banyak belajar dari setiap perjalanan hidup si Mbah yang usianya hampir menginjak 80 tahun.

Hingga pukul 7 malam, Rian mengajakku pulang dan setibanya dihotel, Rian memintaku untuk menemaninya ke Filosifi Kopi Jogjakarta, sebuah coffee shop yang cukup terkenal dan kekninian dikalangan masyarakat Indonesia, aku mencoba menolak karena perjalanannya cukup jauh, dan kondisiku juga sudah sangat kelelahahan, namun Rian tetap memintaku, sehingga akhirnya dengan merasa terpaksa akupun pergi menemani Rian hingga pukul 12 malam.

Ini adalah malam terakhirku bersama Rian, sebelum besok sore kami harus berpisah dan kembali ke kota kami masing-masing, aku masih mengharapkan sebuah kesempatan untuk dapat berbicara dengannya, setidaknya untuk mencurahkan apa yang selama ini hatiku rasakan, namun harapanku tidak pernah dapat terjadi, aku mencoba untuk menyapanya, dia hanya mengalihkan wajah, ketika dia tertidur, aku menatap wajahnya, dan menyentuh wajahnya, namun Rian malah membentakku, karena aku telah mengganggu tidurnya, sehingga hal itu membuat perasaanku untuk meninggalkan Rian menjadi semakin kuat, dan aku tidur dengan membelakangi tubuhnya.

Pukul 8 pagi alarm HP ku berbunyi, lalu aku langsung bergegas ke kamar mandi, aku mengemas seluruh pakaianku, dan melihat Rian sedang asik bermain HP seperti biasanya, karena Rian telah melihatku berpakaian rapi, Rian juga pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap, dan disaat itulah aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya sendirian bersama sepucuk surat dan juga sebuah oleh-oleh dari London untuknya, aku pergi sendirian, dan aku akan pergi dari kehidupan Rian untuk selama-lamanya.

Ada banyak hal yang dapat aku pelajari dari kisah ini, setidaknya untuk menghargai setiap orang yang selalu peduli terhadapku, aku belajar untuk memahami sifat seorang biseksual, aku belajar bagaimana berjuang untuk menemukan cinta sejati, aku belajar untuk tidak jatuh cinta terlalu cepat, aku belajar untuk lebih menghargai kebaikan, dan aku juga belajar untuk merelakan karena cinta yang baik tidak selamanya harus memiliki.

 

23 tanggapan untuk “My Bisexual Love

  1. Lagi nonton youtube, terus mas Ardians post link ini, eh gw klik dan baca sampe selesai.
    Befaefah, menghemat kuota dan inspiratif ceritanya.
    Semoga dapet yg lebih baik dan gak ada irisan bawang lagi ya mas.

  2. Gw biseks juga, tapi gak kaya orang ini jahatnya, gw dari awal selalu bilang kalo gw udah pny istri, dan kalo ada apa2 selalu ngomongnya baik2, krn bagaimanapun gw masih butuh itu brondong2 hihihi

  3. Sabar mas. Pengorbanan mas hampir sama seperti yang saya lakukan. Saya malah jadi seperti psikopat gara gara percintaan gay. Tapi alhamdulilah, saya sadar diri dan merelakan semuanya pergi. Semoga mas bisa menemukan cinta yang hakiki. Amin

  4. Gw suka.. Gw suka… Cinta itu memang patut untuk di perjuangkan.. Tetapi mundur satu langkah untuk menemukan arti dari cinta itu sendiri knapa gak!! Tetap semangat jalani hidup.. Klo jodoh siapa yg tau.. 😊😊😉

Tinggalkan Balasan ke Ardians Heart Batalkan balasan