My Awful Mom

Dear Sahabat Ardians, setiap orang pasti memiliki cerita yang berbeda-beda tentang dirinya, begitupun dengan cerita-cerita pribadiku, tentu tidak akan sama dengan apa yang kalian alami, well kali ini aku ingin sedikit bercerita mengenai keluargaku.

Waktu aku kecil, bisa dibilang bahwa aku adalah anak yang cukup beruntung, karena Kakekku adalah seorang pegawai BUMN, apapun yang aku mau dimulai dari pakaian, makanan dan juga mainan, pasti Kakek dan Nenekku turuti.

Loh kenapa Kakek dan Nenek? Ya karena aku dibesarkan oleh mereka sejak usiaku beberapa bulan, bukan oleh kedua orang tuaku, karena mereka telah bercerai dan memiliki keluarga masing-masing.

Dalam seluruh perjalanan hidupku, mungkin hanya beberapa waktu yang aku habiskan bersama Mama dan Papa, kalau aku gak salah mengingat, tepatnya pada saat aku kelas 3 SD bersama Mama, dan bersama Papa pada saat SMP.

Sejujurnya, aku seperti merasa bahwa mereka bukanlah kedua orang tuaku, mungkin karena mereka tidak terlalu banyak berperan dalam mengisi hari-hariku, karena mereka lebih mementingkan egonya masing-masing bersama setiap kehidupan barunya.

Sebelum Kakek meninggal, dan masih dirawat dirumah sakit, Kakek pernah bilang bahwa, aku pernah ditelantarkan atau dibuang disebuah kebun oleh Mama, dan Kakek dan Neneklah yang mencari dan menemukanku kembali, hingga akhirnya merekalah yang merawatku hingga aku remaja.

After knowing this reality, I don’t know what I have to say, I just feel sad and upset with my parent…

Tidak semua pengalaman hidupku bersama Mama adalah buruk, mungkin ada beberapa episode yang membahagiakan, namun segala hal yang terekam dalam ingatanku adalah sifat Mama yang jahat.

Aku masih ingat pada saat aku duduk di sekolah dasar, saat tinggal bersama Mama, sering sekali aku dimarahi, meski berawal dari masalah kecil semua akan menjadi besar dengan perlakuan Mama yang kasar, sering sekali aku ditampar, ditonjok atau dipukuli olehnya, mungkin maksud Mama baik, bahwa dia ingin mendidikku, tapi menurutku dengan begitu adalah cara yang salah.

Menjelang aku dewasa sifat Mama sepertinya tidak berubah, pernah aku pergi dari rumah dan meninggalkan surat untuknya, aku tau bahwa aku bukanlah anak yang baik karena aku terlalu berharap Mama menjadi Ibu yang baik untukku dan juga adikku, aku tinggalkan pesan bahwa aku ingin pergi dari keadaan ini, dan aku juga berpesan untuk tidak lagi bersikap kasar, terutama kepada adikku yang masih kecil, dan sepertinya itu tidak berubah, aku tidak mengerti apa yang ada didalam pikirannya, hingga akhirnya adikku sendiri tidak nyaman dalam pola asuhnya, aku yakin bahwa sifat kasarnya juga membuat adikku merasakan apa yang selama ini aku rasakan, hingga akhirnya adikku juga diasuh oleh Nenekku.

Nenekku berperan seperti Ibu kandungku sendiri, that’s why aku lebih sayang pada Nenek daripada mama, bahkan hingga aku dewasa ini, Mama masih belum berubah, adikku seolah tidak dipedulikan, mulai dari uang jajan hingga biaya sekolahnya, dan seluruh beban itu diberikannya kepadaku, jadi setiap bulan aku harus mengirimkan uang untuk Adik dan Nenekku, yang sebetulnya mereka berdua bukanlah bagian dari keharusanku dalam bertanggung jawab, melainkan Mama sebagai Ibu dari Adikku dan anak dari Nenekku, juga anak-anak Nenekku yang lain.

Aku tidak bisa mencerna kenyataan ini, berdasarkan observasiku, anak Nenekku juga gak semuanya hidup susah, ada yang memiliki perusahaan, memiliki mobil juga ada yang beristri lebih dari tiga.

Mamaku juga tidak dalam hidup yang susah bersama suami barunya, tetapi semua ini adalah masalah komitmen dalam berbalas budi atas sebuah kebaikan.

Aku masih ingat, pada beberapa tahun yang lalu, aku mencoba untuk membangun hubungan yang baik kepada Mama, namun apa yang aku bayangkan ternyata tidak menjadi indah, karena hingga akhirnya uang tabunganku yang berjumlah belasan juta habis ditipu olehnya, tanpa ada permintaan maaf dia berkali-kali menyakiti hatiku dengan perbuatannya, padahal aku sangat berharap bahwa Mama bisa menjadi pribadi yang dapat dipercaya untuk mempersiapkan masa tuaku nanti.

Sometimes, I felt so jealous with my close friends, because they was born from Mom who has beautiful hearts, so menurutku percuma aku punya Mama yang cantik wajahnya, tapi hatinya tidak.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa tidak sukakku kepada Mamaku sendiri, karena sikapnya yang pemarah dan tidak dapat dipercaya, terkadang aku merasa aneh pada situasi ini, dan kadang aku berpikir mungkin kehidupanku sebelumnya aku adalah seorang manusia yang jahat, sehingga aku mendapatkan karma pada hidupku sekarang.

Aku tidak butuh pembenaran atau pembelaan atas tulisanku ini, tapi aku meyakini bahwa tidak hanya seorang anak kepada orang tuangnya, tetapi orang tua juga bisa menjadi durhaka kepada anaknya.

 

 

Satu tanggapan untuk “My Awful Mom

Tinggalkan Balasan