Bersama Youth ACATA ke Afrika Selatan

Hai Sahabat Ardians

Maafkan aku yang lagi semangat menulis blog lagi, okay kita throw back ya ke tahun lalu, dimana aku mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengunjungi kota Durban, di Afrika Selatan, yang jelas aku kesana bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk menjadi pembicara disalah satu diskusi panel pada konferensi AIDS.

Konferensi ini adalah agenda 2 tahunan, dan ini adalah kali pertama aku mengikutinya, dengan dukungan dari Youth ACATA – Treat ASIA (sebuah organisasi regional di Bangkok, Thailand).

Aku adalah member dari Youth ACATA, yaitu sebuah leadership program bagi remaja yang hidup dengan HIV di Asia, nah program ini berjalan selama 2 tahun, dan puji Tuhan aku berhasil mengikuti semua kelasnya dan I was graduated.

Bangga? tentu iya, karena selama 2 tahun lalu aku bolak-balik ke Bangkok untuk mengikuti kelas, mengikuti kursus Bahasa Inggris, melakukan project pribadi dengan membuat buku cerita gay yang hidup dengan HIV di Jakarta, selain itu aku juga melakukan kunjungan ke sebuah panti asuhan bagi anak-anak yang hidup dengan HIV di Cambodia, ah pengalaman yang sangat berharga.

Well sepertinya tulisanku agak melebar, nanti kita akan bahas lebih lanjut mengenai Youth ACATA, tapi untuk saat ini, aku juga ingin berbagi pengalamanku ketika ke Afrika Selatan.

Aku mewakili remaja Indonesia dan Asia untuk mempromosikan Youth ACATA disana bersama 2 teman lainnya dari Thailand, aku berangkat sendirian, dan itu adalah perjalanan terjauhku saat itu, bisa bayangin gimana rasanya? tapi aku bersyukur, akhirnya aku bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.

Disana aku menjadi pembicara pada panel diskusi bersama 2 teman lainnya, aku berbagi pengalaman mengenai keterlibatanku selama ini bergabung di Youth ACATA, dan disana aku juga berbagi pengalamanku, mengenai hidup sebagai seorang remaja gay yang juga hidup dengan HIV, bagaimana aku berjuang dan bertahan dari stigma dan diskrimasi dari lingkungan masyarakat, ah pokoknya disana sedih, nanti deh aku cerita lebih detail lagi, hingga akhirnya pada saat diskusi tersebut aku gak bisa menahan air mata dan akupun menangis, karena mengingat teman-temanku yang lain yang sudah meninggal.

Well intinya aku merasa sedih bahwa aku mewakili remaja gay yang hidup dengan HIV di Indonesia, dan ketika aku ingat bahwa banyak teman-temanku yang tidak bisa bertahan, akhirnya aku menangis karena aku tidak bisa banyak membantu mereka.

Dan pada saat aku bercerita, aku juga melihat seorang Ibu yang mendengarkan ceritaku, dan diapun menangis karena terharu, and I’m so proud of my self because I can get their attentions, however program seperti Youth ACATA itu sangat penting, jadi setiap remaja yang hidup dengan HIV bisa hidup berdaya, pemahamannya meningkat dan kualitas hidupnyapun akan meningkat.

Terkadang aku juga berharap bahwa akan ada program serupa di Indonesia, pernah sih membuat proposal semacam itu, tapi sepertinya ditolak, karena sejauh ini, lembaga donor masih tertarik pada program terkait pencegahan dan meningkatkan test HIV, bukan pemberdayaan ataupun akses pengobatan.

Menghadiri International AIDS Conference adalah hal yang paling mengesankan buatku, karena jutaan orang dari seluruh dunia datang, baik aktivis, ilmuan, lembaga donor, perushaan, pemerintah dan siapapun yang memiliki concern terhadap isu ini, untuk membahas strategi-strategi pengendalian HIV ini, kita bisa saling bertukar pikiran, belajar, dan membangun relasi diarea global, dan aku sangat bersyukur bahwa aku pernah menjadi bagian didalamnya.

4 tanggapan untuk “Bersama Youth ACATA ke Afrika Selatan

Tinggalkan Balasan