Menghargai Keberagaman di Sekolah

Disaat saya duduk dibangku SMA, dimana saya baru saja mengenal jati diri saya yang sebenarnya, bermain bersama teman-teman sebaya, belajar dan aktif berorganisasi, dan seperti teman-teman yang lainnya, saya juga merasakan jatuh cinta.

Sejak kecil saya merasakan cinta yang berbeda, banyak anak laki-laki disekitar saya mengungkapkan cinta terhadap lawan jenis mereka, namun mengapa saya seorang anak laki-laki, mencintai seorang laki-laki? Tidak ingin berlarut dalam kebimbangan akan jati diri yang saya miliki, saya menjalani hidup seperti teman-teman saya pada umumnya, saya mencoba membohongi perasaan saya, membohongi keluarga saya di rumah dan di sekolah dengan cara memacari beberapa orang perempuan, hingga pada suatu waktu saya menemukan beberapa sahabat di sekolah yang memiliki orientasi seksual yang sama seperti saya.

Hari demi hari, saya semakin akrab dengan sahabat-sahabat saya, peran mereka akan hidup saya sangatlah besar, saya bisa menjadi diri saya sendiri, setidaknya untuk menceritakan sebuah perasaan yang telah lama saya pendam, selain berdiskusi merekapun turut andil dalam mencarikan saya seorang pacar laki-laki, memang benar-benar friendship goals yang saya rasakan saat itu.

Disaat saya duduk dibangku kelas 3 SMA, seorang guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) memanggil saya ke ruangannya, dan pada saat itu saya mendapatkan banyak sekali interogasi akan orientasi seksual saya, dan pada saat itupula saya terbuka kepada guru tersebut dengan mengakui bahwa saya adalah seorang Homoseksual. Namun bukanlah sebuah bimbingan yang saya dapatkan, tetapi guru tersebut membawa saya ke sebuah ruang kelas yang kosong kemudian menelanjangi saya, guru laki-laki tersebut juga memaksa saya untuk melakukan hubungan seksual, dengan dalih bahwa karena saya adalah seorang gay, maka saya akan menjadi pusat penyakit, sehingga guru tersebut harus memeriksa semua bagian tubuh saya dengan cara melakukan hubungan seksual seperti apa yang saya lakukan dengan pacar laki-laki saya, kejadian itu cukup mengganggu psikologis saya apalagi guru tersebut juga mengancam akan memberitahukan semua orang disekolah serta orang tua  jika saya mengadu akan hal ini kepada siapapun.

Setelah kejadian tersebut, tentu menjadi tidak mudah bagi saya dalam menjalani peran saya sebagai seorang siswa disekolah, atas peristiwa yang menakutkan itu saya kehilangan motivasi saya untuk belajar dan bersekolah kembali, sehingga saya memutuskan pergi ke Jakarta dan tidak melanjutkan pendidikan, meskipun saat itu sisa belajar saya hanya berkisar 4 bulan menuju Ujian Nasional dan kelulusan. Namun kala itu keamanan diri saya menjadi lebih penting dari apapun, perlahan saya mencoba mengobati rasa trauma dalam diri saya, tanpa bantuan siapapun, kecuali diri saya yang mampu mengendalikannya.

Saya sangat menyayangkan peristiwa itu terjadi, kapasitas saya sebagai seorang siswa di kota kecil, tidaklah mampu membuat saya menjadi pribadi yang berani, hingga saat ini saya terus menyembunyikannya, seraya berharap bahwa kejadian yang saya alami ini tidak akan pernah terjadi lagi kepada siapapun.

Sekolah, guru, teman sebaya dan setiap lapisan masyarakat harus mampu menghargai setiap keberagaman, termasuk gender dan seksualitas, tidak bisa dipungkiri bahwa hampir seluruh manusia pernah dan akan melangsungkan kegiatan sosialnya di lingkungan sekolah, seorang guru atau pihak sekolah tentu saja tidak berhak menghukum perihal orientasi seksual murid-muridnya, apa yang akan terjadi jika semua pelajar mengalami apa yang saya alami?

Informasi akan keberagaman gender dan seksualitas bukan hanya tentang jatuh cintanya seorang laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga laki-laki yang mencintai laki-laki, perempuan yang mencintai-perempuan, ataupun keduanya. Gender dan seksualitas adalah hal yang tidak terbatas, biarlah saya, kamu, dia dan mereka menjalani apapun yang kita semua inginkan, biarlah kita semua bahagia dengan cara kita sendiri, biarlah kita semua menjalani hidup dengan takdir yang sudah Tuhan berikan, karena ini semua diluar batas kemampuan kita sebagai manusia, karena kita semua tidak bisa dipaksakan untuk masuk kedalam 2 peran yaitu hanya laki-laki dan perempuan saja, dan juga karena manusia itu beragam baik apa yang tampak diluar dan juga didalam hatinya.

 

 

3 tanggapan untuk “Menghargai Keberagaman di Sekolah

Tinggalkan Balasan