Indonesia Krisis Keberagaman

Dengan mengamati sekeliling ragam karakter yang berbeda-beda, ada yang berhati sensitif, rendah hati, cuek, pemalas, rajin, sombong, angkuh, baik, sopan, arogan, pesuruh, pemerhati, penurut, pemarah, pemaaf, ceria serta masih banyak lagi karakter yang sering kita temui setiap harinya, dan itu senantiasa membuat kita merenung didalam hati kenapa begitu banyak ragam karakter yang tumbuh didalam diri serta jiwa setiap manusia dan kehidupannya.

Perbedaan bukan suatu hal yang baru, terutama di Indonesia yang memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tetapi satu jua, ada beragam budaya, bahasa, ras, etnik, suku, ekspresi, agama dan lain sebagainya bahkan termasuk pula keberagaman gender dan orientasi seksual sekalipun.

Terkenang ketika saya masih duduk disekolah menengah pertama, saya bertanya mengenai ragam perbedaan kepada seorang guru dalam hal agama/ kepercayaan, menurut dia agama itu hanya ada satu yang benar dan yang lainnya salah, lantas kenapa Tuhan harus menciptakan lebih?

Dan beliau menjawab jika diseluruh bumi ini isinya sama, bisa dibayangkan akan sebosan apa umat manusia dalam menjalani hidupnya, dan untuk apa ada kehidupan? memang ini semua sudah menjadi rencana serta kuasa-Nya.

Indonesia adalah sebagian kecil dari segala bentuk perbedaan yang ada di semesta ini, maka dari itu kita tidak bisa turut andil dalam menghakimi mana yang terbaik dari setiap perbedaan yang ada, setiap manusia yang lahir di dunia sudah pasti memiliki esensi nomer satu atau selalu ingin tampil menjadi yang terbaik atau sebuah keutamaan, contohnya siapapun diri kita, kita selalu ingin menjadi yang terbaik dengan adanya pengakuan dari orang lain, mengklaim segala perbedaan dengan menghakimi bahwa saya benar dan anda salah, dalam hal perayaan hari valentine saja sudah menjadi bahan perdebatan yang cukup serius, pro-kontra menjelang perayaan hari kasih sayang menjadi perhatian pemerintah Indonesia baik dilevel nasional maupun daerah yang dibeberapa tempat sudah memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang perayaan hari Valentine ini, kurang kerjaan memang ketika pemerintah kita terlalu sibuk mengurusi soal moralitas seseorang, padahal alangkah baiknya pemerintah lebih fokus mengembangkan kerja-kerja pemerintahan demi memakmurkan rakyatnya yang hingga saat ini masih jauh dari nilai sempurna.

Dan hal yang sama terjadi pada beberapa waktu ini, Indonesia juga masih dihebohkan dengan perdebatan mengenai isu LGBTIQ atau perbedaan dalam hal keberagaman gender dan orientasi seksual seseorang, hal ini tentu saja bukanlah fenomena baru di Indonesia, namun lagi-lagi pemerintah, organisasi masyarakat dan sipil lainnya tidak dapat memahami dan menghargai berbagai macam polemik perbedaan yang ada, padahal sangat jelas hal ini tidak akan mempengaruhi ketahanan sebuah negara jika pemerintah dapat menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis bagi rakyatnya tanpa terkecuali, baik LGBTIQ maupun Heteroseksual, pro-kontra baik atau tidak setiap perbedaan dipengaruhi dari sudut pandang seseorang, jika dilihat dari sudut pandang Negara saya sangat mengharapkan LGBTIQ yang juga merupakan rakyat Indonesia perlu diperhatikan dengan baik, dilindungi dari segala bentuk kekerasan serta sikap diskriminatif dari berbagai pihak, dan dari sudut pandang agama/ kepercayaan, saya juga berpendapat bahwa LGBTIQ merupakan orang yang sadar akan keberadaan Tuhannya, juga turut beribadah sesuai dengan agama kepercayaan yang mereka anut, dan tentu ini tidak akan menjadi tanggung jawab negara ataupun oranglain atas baik/ buruknya amal perbuatan yang seseorang perbuat, melainkan ini akan menjadi tanggung jawab setiap individu mereka sendiri, dalam hal ini peran tokoh agama sangatlah diperlukan untuk tidak menebar kebencian tetapi diharapkan dapat merangkul segala jenis perbedaan yang ada dalam menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, empati dan jiwa persatuan di Indonesia.

Setiap manusia pasti memiliki upaya dalam dirinya untuk menjalani hidup dengan sebaik mungkin, karena apa yang kita rasa baik belum tentu juga baik dan sesuai dengan yang orang lain rasakan, setiap perasaan yang kita rasakan saat ini baiknya kita syukuri dengan menghargai setiap perbedaan dengan cara berpikiran terbuka, karena jika kita menutup diri, maka kita tidak akan pernah bisa belajar apa-apa, apapun perbedaan yang terjadi, asalkan tidak mengganggu hak-hak orang lain dalam menjalankan setiap detik kehidupannya, dengan menciptakan situasi yang kondusif bagi negara ini, maka seluruh masyrakat Indonesia diharapkan memiliki sikap ”tenggang rasa” dalam upaya menghindari konflik dari setiap perbedaan yang tidak akan pernah ada habisnya, masalah perbedaan baik atau tidak, walaupun itu jauh dari standar kebaikan menurut orang lain, minimal lakukan yang terbaik dari dan untuk diri kita sendiri.

 

Salam Keberagaman

 

2 tanggapan untuk “Indonesia Krisis Keberagaman

Tinggalkan Balasan ke Andi Sanjaya Batalkan balasan