Hatiku Berlabuh Pada Keindahan Kota Palu

Pada awal 2015 disaat hatiku masih belum tergerak untuk menulis, aku pernah sekali mengunjungi sebuah Kota yang cukup asing ditelinga, yaitu Kota Palu. dulu hampir tidak pernah terpikirkan bahwa aku bisa berkunjung ke Kota ini, namun berkat tugas kerja dari kantor lamaku, yang mengharuskanku untuk berkunjung kesana.

Aku mengawali perjalanan ini dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta, lalu transit di Makassar selama 1 jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Palu, walaupun yang aku tau bahwa ada beberapa pilihan penerbangan langsung dari Jakarta menuju kota ini. Perjalananku kali ini menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam lamanya ditemani oleh maskapai kebanggaan Indonesia “Garuda Indonesia”. Sebelum mendarat ketika pesawat tengah melaju lebih rendah ke permukaan tanah, penglihatanku sangat dimanjakan dengan keindahan sekitarnya, sejauh mata memandang, aku hanya melihat luasnya laut yang dikelilingi oleh lembah, dan ini mengingatkanku pada sebuah film yang berjudul Pompeii.

Kota Palu merupakan Ibu Kota dari Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), setibanya disana, aku dijemput oleh rekan kerjaku yang seorang penduduk lokal, dan mengantarkanku ke hotel yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya.
Dalam perjalanan, aku berusaha untuk selalu membuka mata, sepertinya aku merasa tidak ingin melewatkan hal kecil apapun selama keberadaanku di Kota ini. Suasana Kota yang hening, udara yang panas pada siang hari dan beberapa bangunan tua tidak luput dari perhatianku dalam perjalanan.

Hotel mewah beserta gedung-gedung pencakar langit sangat jarang aku temui di Kota ini, ya mungkin Kota ini di desain sebagai objek wisata daerah, sehingga aku tidak bisa membandingkannya dengan Kota-Kota besar lain seperti Bandung ataupun Surabaya.

Di Kota Palu ini, aku banyak disuguhi berbagai aneka makanan berbahan dasar Ikan, ya karena Kota Palu adalah Kota yang dikelilingi oleh laut, jadi tidak heran jika disini banyak menyediakan berbagai macam olahan makanan yang bersumber dari laut.

Pada sore hari, aku mengunjungi sebuah cafe, aku lupa namanya apa, yang jelas cafe tersebut berada dipesisir pantai. Sebuah cafe menengah dengan view yang sangat indah, berbagai makanan tersedia disini, dimulai dengan makanan yang sering aku jumpai di Jakarta, hingga makanan yang cukup asing bagiku, Cafe ini juga menyediakan fasilitas karaoke dengan diiringi oleh seorang pemain piano untuk menambah romantisme Kota yang indah ini.

Pada malam hari, beberapa rekan kerja lokal mengundangku untuk menghabiskan separuh dari malam yang tersedia, aku dijemput di hotel tempatku menginap, dan aku dibawa ke suatu warung angkringan persis dipinggir pantai atau biasa dikenal dengan istilah anjungan pantai tallise.
Udara yang dingin, deburan ombak yang cukup kencang, menemani malamku sambil menikmati beberapa cemilan khas Kota ini, seperti Pizza Mie dan juga Pisang Epe, meskipun Pisang Epe ini adalah makanan khas Kota Makassar, namun karena secara geografis Kota ini cukup berdekatan, sehingga Pisang Epe inipun banyak digemari di Kota ini.

Entahlah, namun pada malam itu, aku merasa sangat jatuh cinta dengan suasana Kota Palu, meskipun pencahayaan lampu masih cukup terbatas, namun dengan terbukanya atap langit serta dengan terangnya sinar bulan, aku masih dapat merasakan keindahaanya.

Sebelum aku kembali ke Jakarta, beberapa rekan kerjaku juga merekomendasikan untuk membeli beberapa bungkus bawang goreng khas Palu, dan ya meskipun seluruh bawang merah bersifat sama, namun tidak tau kenapa bahwa dalam hal rasa bawang goreng ini cukup berbeda, rasa yang gurih dan tekstur yang renyah sangat memanjakan lidahku saat menikmatinya.

Dengan berat hati aku meninggalkan Kota Palu tercinta, semoga suatu saat nanti aku bisa berkunjung kembali ke Kota ini, dengan waktu yang lebih lama serta pengalaman yang lebih berwarna.

Satu tanggapan untuk “Hatiku Berlabuh Pada Keindahan Kota Palu

Tinggalkan Balasan