Gay di Desa

Well, sekarang kita mulai pada salah satu pengalaman cerita Gay, jadi inspirasi ini dateng ketika aku berkunjung kerumah salah satu sahabatku didaerah Leuwiliang Kab. Bogor Jawa Barat, tempatnya jauh banget, aku sama temen-temen bertiga, butuh waktu sekitar 3 jam dari kota Bogor menuju rumah sahabat tersebut, singkat cerita aku sampai sekitar jam 19.00 disuatu persimpangan jalan, and then kita turun dari bus wah berasa artis masuk desa tau gak ? haha, cuman ya emang lagi kurang cakep nih, soalnya kan abis menempuh perjalanan yang agak jauh, btw aku kira ini udah akhir dari perjalanan, ternyata hmmm kita mesti naik ojek lagi nih katanya sekitar 30 menit, baiklah perjuanganpun kami lanjutkan.

Setelah kurang lebih 30 menit, menyusuri perjalanan yang gelap dan agak sedikit memicu adrenalin, tapi untung aja ada si abang tukang ojek yang bisa bikin hatiku tenang haha, aku peluk dari belakang gak apa-apa kali ya ? Sssttt back to topic Sampailah aku dengan temen-temen ditempat tujuan, tepat pukul 19.30, agak heran sih, disini banyak rumah tapi kok gelap ?, suasana nya sunyi sangat jauh berbeda dengan kota Jakarta, disini gak ada suara kendaraan, gak ada suara orang jual makanan, pokoknya kaya kota mati deh, cuma kodok sawah, dan kawan-kawannya yang mungkin setiap malam menghibur warga disini, tapi bagiku ini suasana yang bisa bikin aku nyaman, kalau aku boleh mengutip kalimat Syahrini ”I feel free”, mungkin aku udah tiduran deh di rumput-rumput yang menjelma seperti bukit disini.

Finally aku udah didalem rumah dong ya, setelah so’ akrab dan so’ laki gitu sama keluarga temenku, biar gak ketauan kalo kita semua ini gay, haha
Sebelum tidur, aku agak sedikit kepo gitu tentang kehidupan sahabatku sebelum move ke Jakarta, akhirnya aku dapat beberapa informasi dari dia, tentang kehidupan Gay di pedesaan, jadi menurut kacamataku adalah :

1. Gaya berpacaran Gay didesa itu masih sangat alami, hampir mirip dengan lingkungan dan udara disini, belom banyak yang terkontaminasi oleh yang namanya ”Fun Only” dikombinasikan dengan pengalamanku sendiri, jadi kalau di pedesaan itu si pacar meskipun keduanya belom coming out, udah pasti mau antar jemput pacarnya sekolah, ngapelin ke rumah disaat malam Minggu, bahkan ada juga loh yang sering bawain martabak buat sang mertua, modusnya sih sahabatan tapi kenyataannya ya gitu deh.

2. Tongkrongan bagi pasangan Gay di pedesaan, itu hampir sama dengan pasangan Heteroseksual pada umumnya, mengisi malam Minggu dengan ngobrol-ngobrol aja atau pengen yang khusus berduaan dengan si pacar, biasanya itu dilakukan kalau gak dirumah si pacar, bisa jadi dirumahnya temen, yang sudah sama-sama paham dengan orientasi seksualnya, bahkan banyak juga loh yang nongkrong dikebun, atau dipinggiran sawah gitu, bahkan katanya ada juga yang agak berani buat ML dibalik pohon-pohon yang rindang dipertengahan hutan.

3. Sulit mencari pasangan Gay, bukan hanya dirasakan oleh kita saja yang hidup diperkotaan, tentu hal ini membuat mereka yang hidup di pedesaan sangat sulit untuk menemukan kebahagiaan yang mereka inginkan, jangankan pacar, teman yang memiliki orientasi seksual yang sama pun sangat sulit menemukannya, mungkin karena belum ada fasilitas & teknologi yang mendukung, jangankan gay aplication, untuk menelepon saja masih menjadi kendala dengan masalah sinyal, jangankan diskotik, untuk pacaran saja, masih menggunakan rumah alam untuk berduaan.

4. Gay discreet (belum terbuka), dari beberapa cerita, bahwa di pedesaan sangat banyak pria gay yang belum terbuka akan orientasi seksualnya, biasanya mereka terjebak dalam budaya yang tertanam di masyarakat, sehingga si pria-pria tersebut harus menikah, atau memilih untuk tidak menikah sama sekali, bagi pria gay yang sudah menikah biasanya mereka melakukan relasi gay secara diam-diam, supaya tidak tercium oleh istri dan keluarganya, tentunya hampir sama ketika hal ini juga banyak terjadi diperkotaan.

Itu aja pembahasanku kali ini, see you di petualangan Ardians selanjutnya ya, jangan lupa dishare cerita ini ke temen-temen kalian juga hehehe.

“Letak geografis dan fasilitas teknologi bukanlah hal yang mempengaruhi seseorang menjadi gay atau tidak, melainkan karena sebuah takdir jauh sebelum seseorang itu terlahir”

4 tanggapan untuk “Gay di Desa

Tinggalkan Balasan