”Gay” Budaya Barat

Fenomena percintaan sesama jenis saat ini memang seperti fenomena gunung es yang kelihatannya sedikit tapi nyatanya situasi ini sangat besar terjadi dimanapun, tak terkecuali di Indonesia yang jumlah populasi penduduknya sangat besar, banyak sekali para pakar yang bukan dari kalangan Gay itu sendiri ‘’Sok Tau’’ untuk memberikan statment bahwa Gay ini adalah budaya barat, sehingga katanya menginfluence warga Indonesia untuk merubah perilaku seksualnya, well siapa bilang ? jika para pakar tersebut merasa bahwa statment mereka itu benar, maka aku sarankan jika kamu tidak memiliki ketertarikan kepada sesama jenis, segeralah kamu pindah ke negara barat itu untuk tinggal beberapa bulan saja, silahkan kamu meminta uang kepada pemerintah Indonesia sebagai sponsor untuk membuktikan pernyataan kamu bahwa itu adalah benar, apakah budaya disana mempengaruhi orientasi seksual anda dan mari kita lihat apakah kamu akan berzinah dengan pasangan sesama jenis disana ?

Pada zaman ini setiap orang dapat dengan mudah untuk menerima informasi dari berbagai media dari dalam ataupun luar negri, lantas apakah salah jika mereka menemukan informasi yang baik dan sesuai dengan kebutuhannya ? sehingga seseorang tersebut dapat bercermin, siapakah dirinya dan lantas apa yang dimaksud dengan kata hatinya terkait ketertarikan seksualnya, karena aku bersedia untuk mengamini pelajaran ini tidak akan didapatkan dari sekolah ataupun guru yang cenderung menanamkan nilai-nilai moralitas pada setiap siswa-siswinya.

Setelah mereka mengetahui siapa mereka sebenarnya, menurutku itu adalah bagian dari kemerdekaan diri mereka sendiri untuk menjadi pribadi yang apa adanya, sangat berbeda dengan zaman orde lama yang mana akses terhadap segala bentuk informasi sangat terbatas dan cenderung konservatif.

Ketertarikan seseorang secara seksual mungkin hampir sama ketika kita akan pergi ke pesta, dimana kita harus memilih pakaian yang disukai dan terbaik, sehingga membuat kehadiran kita di pesta tersebut menjadi lebih percaya diri, coba bayangkan jika seseorang telah memberikan pakaian sekedarnya untuk kita, tidak sesuai dengan hasrat atau keinginan kita bahwa karena kita tidak suka warna pakaian itu, pakaian itu terlihat enggak banget, apakah kita akan tetap memakainya ? meskipun iya mungkin kita akan merasa tidak nyaman ketika kita berada dipesta tersebut.

Jika kita refleksikan kepada ketertarikan seseorang secara seksual, coba kita bayangkan jika kita yang merasa dirinya heteroseksual (tertarik kepada lawan jenis) kemudian kita dihadapkan kepada seorang homoseksual untuk berhubungan seks ? apakah kita akan menerimanya dengan sepenuh jiwa dan raga, meskipun alat kelamin yang dimiliki tetap bereaksidan berfungsi dengan baik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa didalam hati yang sebenarnya, kita menemukan ketidaknyamanan bukan ? sekarang kita coba merubah peran seorang homoseksual yang harus terpaksa menjadi seorang heteroseksual ? apakah mungkin perasaannya sama persis dengan seseorang yang terpaksa mencintai seorang homoseksual ?

Berarti bisa kita simpulkan bahwa budaya sangat tidak bisa mempengaruhi orientasi seksual seseorang, orientasi seksual itu berasal dari takdir diri kita sendiri, bukan dari gaya hidup apalagi ditularkan melalui air liur orang lain.

 

3 tanggapan untuk “”Gay” Budaya Barat

  1. Gue lahir dikampung, bahkan waktu kecil belom ada listrik, gue juga bingung jadi gay dari mana awalnya, ga ada yang ngajarin, ga ada yg lecehin, gue cm jalan ikutin alur hidup.

Tinggalkan Balasan