Curhat Bersama Ibu Guru – Bully dan Ibu Tiri Story

Pernah gak sih kalian merasa menjadi manusia yang paling tidak beruntung di dunia? atau pernah gak sih kalian merasa tidak bersyukur atas apa yang kalian miliki, seperti misalnya kalian yang terlahir dari keluarga “Broken Home”, jika kalian pernah merasa seperti itu, maka aku juga ingin berkata, bahwa aku juga pernah merasakan hal yang sama.

Aku masih mampu mengingat dengan jelas, ketika aku duduk dibangku kelas lima sekolah dasar, pada jam istirahat aku dipanggil oleh seorang wali kelas yang bernama Ismayanti Kencana, sangat berbeda dengan guruku yang jahat pada artikel sebelumnya, dia adalah guru favoritku mungkin hingga sekarang, bukan tanpa alasan, semua ini karena aku memiliki sebuah kenangan yang cukup menggugah perasaan, saat itu ibu guru bertanya mengenai keseharianku di rumah, hal ini karena ibu guru melihat kepribadianku sebagai anak yang cukup cerdas namun pendiam, selain itu ibu guru juga pernah mendengar ketika aku mendapatkan banyak bully dari teman-teman dikelas, ya karena saat itu aku adalah seorang siswa baru disekolah ini, karena kondisi keuangan kakek saat itu, dia memtuskan untuk pensiun dini dari kantornya, dan berupaya mengobati sakit ginjalnya, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memberikanku kepada keluarga ayah untuk sementara waktu, dan aku terpaksa pindah sekolah karena harus tinggal bersama ayah dan ibu tiri disebuah daerah.

Aku bercerita kepada ibu guru bahwa banyak sekali teman-teman disekolah yang sering melontarkan bully-an, karena mereka tau siapa keluargaku sebenarnya, terutama ayah. Ayah cukup terkenal dikampungnya sebagai pria dewasa yang sering menghambur-hamburkan uang kepada para biduan dangdut disana, setiap ada pesta pernikahan dan mempersembahkan pesta dangdutan, tanpa rasa malu ayah selalu berjoget diatas panggung, pernah satu kali aku melihatnya ketika ditangan kirinya adalah sebuah botol minuman keras, dan ditangan kanannya adalah beberapa lembar uang seratus ribuan, dan ayah membagi-bagikan uang tersebut, aku merasa malu kepada salah satu teman yang memberitahukan perihal keberadaan ayahku ini, yang jelas pada saat itu, aku tidak mampu bertahan untuk melihatnya terlalu lama, dan mengajak temanku itu pergi tanpa mengetahui berapa banyak uang yang dihabiskan atau semua hal yang dia lakukan.

Karena kebiasaan ayahku itu, maka sebagai anak aku menjadi korban dari lingkungan sekitar, baik disekolah dan masyarakat setempat, tidak jarang mereka memanggilku dengan istilah anak si pemabuk.

Selain itu, karena aku tinggal bersama ayah dan ibu tiri, dan saat itu aku mengamini bahwa ibu tiri adalah sosok yang menakutkan, dan itu dibuktikan dengan beberapa perlakukannya, dia selalu marah dibelakang ayah, dia tidak pernah bersikap ramah, bahkan saat mau pergi ke sekolah saja, dia pernah memberikanku uang saku dengan cara melemparkan uang tersebut dari dalam dapur. Situasi seperti itu sangat membuatku tidak nyaman, sehingga akhirnya aku merasa selalu diperlakukan tidak baik, dan aku menceritakan hal ini kepada ayah, aku bilang bahwa selama ini dalam asuhan keluarga sebelumnya, aku selalu diajarkan untuk bersikap baik, bahkan memberi uang kepada pengemis saja harus dengan cara yang sopan, tidak seperti apa yang ibu tiri lakukan, sehingga beberapa kali ayah dan ibu tiriku terlihat berkelahi, dan itu membuat aku merasa tidak aman ketika berada dirumah, sehingga akhirnya aku tidak tinggal bersama mereka berdua lagi, aku dititipkan kepada nenek dan kakek dari keluarga ayahku.

Setelah mengetahui ceritaku tersebut, ibu guru menjadi sangat berempati, bahkan dia juga tidak malu untuk menangis dan berkali-kali memberikan beberapa pesan yang menguatkan, kami berdua memiliki cerita yang hampir sama, kami berdua menangis didalam kelas yang kosong dan terkunci, tetapi ibu guruku lebih beruntung karena ibu kandungnya masih bersedia untuk merawatnya, dan dia selalu memberikanku dukungan yang menguatkan bahwa kelak semua keadaan ini akan berubah menjadi lebih baik, selain itu ibu guru juga berperan sebagai pelindung dari mulut-mulut jahat setiap teman-teman menghinaku, dan dia memberikan nasihat untuk menghargaiku dengan tidak mengorbankanku dari kesalahan apa yang orang tuaku lakukan.

Kasih sayang orang tua memang sangat diperlukan, terutama dalam masa anak-anak, namun tidak semua manusia terlahir dari keluarga yang lengkap dan berbahagia, dan setiap manusia memiliki cerita tersendiri didalam keluarganya, tetapi satu hal yang perlu kita semua ingat, bahwa didalam hidup, kita bisa belajar menjadi lebih baik dari siapapun, ketika keluarga tidak bisa dijadikan sebagai panutan, aku yakin bahwa diluar sana masih banyak orang yang perlu dijadikan sebagai teladan.

Anak yang memiliki latar belakang “Broken Home” tidak bisa disalahkan, dan juga tidak bisa diadili bahwa kelak hidupnya akan sama seperti orang tuanya.

Satu tanggapan untuk “Curhat Bersama Ibu Guru – Bully dan Ibu Tiri Story

Tinggalkan Balasan