Buah Cinta Yang Terpaksa

Selama ini kita menemukan banyak fenomena mengenai seorang Gay yang menikah dengan seorang perempuan, hal ini juga sudah kita bahas pada artikel sebelumnya dengan judul ‘’Gay Married’’ yang tentu saja sangat diperbolehkan jika pernikahan tersebut dilandasi dengan niat yang baik serta dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, namun apakah ketika seorang gay tersebut menikah karena terpaksa oleh kepentingan dirinya dari tuntutan keluarga, ini akan berbuah kebahagiaan untuk semua pihak ? mari kita bahas lebih lanjut.

Ketika kita menjalani sebuah relasi dengan seseorang yang enggak kita cintai, apakah kita akan merasa bahagia menjalaninya ? tentu saja tidak bukan, mungkin begitupula dengan hal yang dirasakan oleh pasangan kita sebagai istri, menikah karena terpaksa demi sebuah status sosial dan niat membahagiakan orang tua itu sangatlah tidak adil bagi pasangan kita, tentu saja ini merupakan bentuk dari kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang kita nikahi, kenapa ? ada 2 unsur kekerasan yang bisa saja timbul karena hal tersebut, diantaranya :

1. Kekerasan Fisik
Kekerasan secara fisik tentu saja tidak selalu identik dengan kata pemukulan, penganiayaan ataupun pembunuhan, tetapi kekerasan secara fisik juga merupakan suatu tindakan yang mengancam kesehatan fungsi organ tubuh pasangan kita, dari apa yang kita amati dilingkungan sekitar, entah mereka adalah seorang homoseksual sejati ataupun biseksual, tetapi berbicara mengenai perilaku seksual nyatanya dari mereka masih ada yang belum bisa bertanggung jawab atas kesehatan dirinya sendiri serta pasangannya sebagai istri, kenapa ? satu fakta yang sering ditemukan ketika seseorang yang sudah menikah, namun dibelakang layar pernikahannya dia masih saja melakukan hubungan seksual secara aktif dengan orang lain terlebih hal itu dilakukan dengan tidak bertanggung jawab karena orang tersebut sangat jarang sekali menggunakan kondom serta tidak mau memeriksakan status HIV nya secara rutin, tentu saja hal ini sangat berdampak atas kesehatan orang banyak terutama kepada istri dan anaknya nanti , mungkin saja lelaki tersebut sudah terinfeksi virus HIV dan secara tidak langsung menularkan kepada istri dan anaknya di rumah, meskipun tidak semua orang melakukan hubungan seksual yang beresiko tinggi namun dengan menggunakan kondom secara konsisten serta melakukan pemeriksaan HIV secara rutin, itu merupakan upaya kita untuk tidak melakukan kekerasan secara fisik terhadap pasangan.

2. Kekerasan Psikis
Kekerasan secara fisik tentu saja sudah terakomodir dalam undang-undang KDRT, namun yang menjadi masalah saat ini adalah mengenai kekerasan secara psikis, sejauh ini kita tidak bisa melakukan visum yang dapat membuktikan jenis kekerasan tersebut, dalam kasus seperti inilah yang banyak terjadi pada seorang homoseksual sejati yang terpaksa menikah, selain menjadi pelaku kekerasan psikis terhadap istrinya dengan melakukan tindakan pengabaian baik dari aspek seksualitas dan perhatian, tentu saja seorang homoseksual tersebut juga tidak bisa dipersalahkan karena dia juga merupakan korban dari kekerasan budaya yang sudah memaksa dirinya dalam menentukan perjalanan hidup, seorang homoseksual sejati yang terpaksa menikah cenderung mencari kebahagiaan diluar rumah, sehingga sang istri seringkali merasa diacuhkan dan tak jarang mengalami rasa kesepian yang berujung pada perasaan stress dan pertengkaran, kekerasan secara psikis tentu saja lebih berat daripada kekerasan secara fisik pada mereka yang pernah mengalaminya karena hal ini dapat mengakibatkan depresi secara mental pada korban kekerasan tersebut.

”Orang yang dapat menyadari keterpaksaan dalam pernikahan adalah mereka sendiri yang sedang menjalaninya, menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas diri sendiri dan keberlangsungan hidup orang lain adalah kewajiban kita semua, hentikan kekerasan budaya dan relationship yang tak berujung karena cinta itu bukanlah suatu hal yang harus dipaksakan, tetapi untuk diperjuangkan”

 

3 tanggapan untuk “Buah Cinta Yang Terpaksa

Tinggalkan Balasan