Tantangan Hidupku Sebagai ODHA

Tujuh tahun yang lalu, setelah aku didiagnosis sebagai seseorang yang telah terinfeksi HIV, bisa dibaca kembali ceritanya disini dan bagaimana kehidupanku selanjutnya bisa dibaca kembali disini. Lantas, apa saja tantangan hidup yang aku hadapi selanjutnya?

Baik, mungkin ini hanyalah perspektif yang diambil dari beberapa pengalaman hidup yang aku alami sebagai seseorang yang hidup sebagai ODHA di Indonesia.

Tantangan pertamaku sebagai ODHA adalah setelah aku berani untuk melakukan tes HIV, dan hasilnya adalah positif maka yang harus aku lakukan adalah bagaimana menerima semua kenyataan ini, karena menjadi HIV positif adalah hal yang semua orang pasti tidak ingin mengalaminya, karena aku harus melakukan pengobatan dalam arti lain menjalani terapi ARV dengan cara meminum obat tersebut seumur hidup, dapatkah kamu bayangkan ketika itu aku mengetahui status HIV tersebut pada saat berusia 19 tahun, dimana ketahanan psikologi sangat diperlukan, meskipun sudah ada kelompok dukungan yang akan membantuku dalam merencanakan rencana-rencana kedepan, namun semua keputusan akan kembali pada diriku sendiri.

Aku masih ingat saat itu biaya untuk melakukan tes HIV masih sangat murah, untuk pemeriksaan lengkap aku hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 25.000 saja, namun ternyata setelah aku mendapatkan hasil bahwa aku HIV positif akan ada banyak biaya yang harus aku keluarkan, meskipun obat ARV bersifat gratis, namun aku harus tetap mengalokasikan dana terutama pada pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan CD4, TB, Hepatitis, Rontgen dan Viraloud minimal setiap enam bulan sekali, namun untuk saat ini aku dapat bersyukur bahwa beberapa layanan kesehatan sudah memberikan layanan gratis dimulai dari pemeriksaan HIV hingga pengobatan yang harus dijalani, namun itu juga tidak semua layanan kesehatan memberikan layanan yang sama, masih ada beberapa tempat yang memberlakukan pembayaran dalam melakukan pemeriksaan hingga pengobatan. Dan aku juga harus meyakini bahwa tidak semua orang, terutama anak-anak muda seusiaku pada saat itu memiliki dana yang cukup untuk mengikuti seluruh proses yang dokter rekomendasikan.

Tantangan berikutnya adalah ketika aku harus terbuka mengenai status HIV, baik kepada keluarga dan juga beberapa sahabat, hal tersebut tentu tidaklah mudah, karena stigma dan diskriminasi di Indonesia masih sangat tinggi, karena ketidakpahaman mereka mengenai bagaimana HIV itu dapat menular. Aku harus siap dengan segala penolakan, dan aku juga butuh banyak waktu untuk memberikan edukasi terhadap mereka yang belum memahaminya, sehingga lambat laun aku dapat menyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja, hal yang sama juga berlaku pada kisah percintaan, karena aku harus terbuka dalam hal ini, seperti memberitahukan mereka mengenai kondisi kesehatan dan juga latar belakang hidup yang aku alami, tidak mudah dalam meraihnya, aku masih mampu mengingat, saat itu aku pernah dekat dengan seseorang, lalu aku terbuka akan status HIV ini, dan dia pergi meninggalkanku karena dia takut tertular akan virus HIV yang ada didalam tubuhku, atas hal itu kemudian aku menjadi lebih berhati-hati terutama dalam melabuhkan perasaan pada seseorang yang belum mengenalku dengan baik.

Kemudian aku merasa bahwa kondisi ini ada yang harus diperbaiki, terutama pemerintah Indonesia dalam memberikan informasi dan edukasi, mungkin kamu semua sudah tau bahwa informasi mengenai seksualitas masih sangat tabu untuk dibicarakan, terutama bagi anak-anak dan remaja yang berusia dibawah dari 18 tahun, mereka harus belajar mengenai hal ini sendiri dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, sekolah dan keluarga tidak akan memberikan penjelasan yang cukup jelas tentang bagaimana menjaga diri dari setiap perilaku yang beresiko, ada batasan-batasan tersendiri dalam memberikan informasi ini, sehingga akses anak-anak dan remaja dibawah 18 tahun akan menjadi sulit terutama dalam mendapatkan edukasi yang baik hingga mendapatkan pemeriksaan serta pengobatan.

Aku kembali berandai-andai, dibalik semua takdir yang telah aku jalani, aku merasa mungkin saja jika pada saat iaku berusia 15 tahun, aku mengetahui bagaimana caranya menjaga diri supaya tidak terinfeksi HIV atau mendapatkan akses pemeriksaan, mungkin saat ini status HIV aku tidak akan seperti ini, aku akan mampu membatasi diriku untuk melakukan hubungan seksual yang lebih aman, terutama dalam menjaga hak-hak tubuh dari setiap pelaku kekerasan.

Aku sering sekali bermimpi bahwa secepatnya informasi dan akses pemeriksaan dapat diberikan tanpa adanya suatu hambatan kepada semua orang yang membutuhkannya, terutama bagi anak-anak dan remaja dibawah usia 18 tahun, yang sudah memiliki faktor resiko terhadap penularan HIV, sehingga aku percaya bahwa hal ini akan menjadi baik untuk memproteksi diri mereka untuk tidak mengalami peristiwa yang pernah aku alami, karena menjadi sehat adalah bagian dari hak asasi kita semua.

Satu tanggapan untuk “Tantangan Hidupku Sebagai ODHA

  1. Semoga sehat selalu kak, dan terimakasih karena selalu berbagi cerita untuk saya pelajari didalam hidup.

Tinggalkan Balasan